Trend Kampung Pelangi

Beberapa bulan belakangan muncul fenomena menarik di Semarang terkait kampung yg dicat warnawarni #kampungpelangi adl bagian dari proyek kampung tematik inisiasi Pemkot Semarang. Menariknya meski muncul belakangan, perhatian orang ke #kampungpelangi Semarang lebih banyak dibanding kmpung dgn konsep yg sama, Kali Code misalnya yg sdah sejak 2015 dicat warnawarni oleh perusahaan rokok Atau Kampung Jodipan Malang taun 2016 diinisiasi mahasiswa UMM dgn bantuan CSR. Semarang sendiri dgn dana APBD memulai proyek ini taun 2017 setelah sebelumnya mas @hendrarprihadi mencanangkan program kampung tematik sejak 2016. Jauh sebelumnya Haas dan Hahn duo seniman Blanda bikin project smacam #kampungpelangi sejak 2005 dan diupscale 2013 mlalui kickstarter. Mereka membuat mural yg sangat indah di favela (pemukiman kumuh) Rio De Janeiro 2013 dan mendapat perhatian dunia. Meski #kampungpelangi bukan gagasan baru dan Semarang belakangan melakukan. yg menarik meski hadir belakangan #kampungpelangi Semarang lebih banyak menyita perhatian, apakah kerna momentum ato promo bagus?
 
jika dibandingkan model serupa di Jogja dan Malang misalnya, Banyak yg antusias melihat proyek ini, dan banyak juga yg mengingatkan ini hanya servis di permukaan. dalam kasus Semarang yang menarik dari sluruh euforia #kampungpelangi yakni warga punya kesempatan untuk melihat kota, terutama kampung scra variatif. Jelas ini bukan hal yg baru, tapi bagi warga yg tak terbiasa melihat kampung diperlakukan sedemikian rupa adl kesegaran. Dgn intensitas yg lebih kecil, kompleks dan lebih lama, Hysteria jg melakukan itu tahun 2012, dgn proyek2 visual sporadis. Hanya saja gemanya ga sebesar #kampungpelangi karena massivitas, mediasi, dan besaran dukungan finansialnya.
 
Dalam banyak hal visinya sama mendorong warga peduli kota, dimulai dari situs ato tempat tinggalnya sendiri. Keberhasilan pemkot dgn #kampungpelangi juga memberikan kepercayaan diri atas program kampung tematik yg sblumnya serba gamang. Kampung Tematik dicanangkan sejak 2016 dgn tujuan pembangunan kampung scr konseptual dn pemberdayaan ekonomi. Hingga sebelum suksesnya #kampungpelangi , lebih banyak kritik dilayangkan ke program ini. Satu yg mendasar adl kebingunan OPD menerjemahkan keinginan pak wali. Akibatnya usulan program kampung tematik terkesan asal. Pemkot memberikan stimulus Rp 200 juta perkampung. Paling gampang sekedar bikin taman gantung, ngecat paving dll. Banyak juga usulan yg masuk itu seperti input untuk musrenbang. Misalnya pavingisasi, perbaikan gapura dll Hal ini tentu tumpang tindih, padahal yg diinginkan program kampung tematik lebih kreatif, solutif, dn memberi benefit. Ada kampung yg jadi kampung ramah anak anak hanya garagara ada LSM perlindungan anak di tempat tersebut. Ato kampung yg dinamai berdasar letak geografisnya, misal kampung ngisor kali. Narasi lokal ga digali, jadi tema yg diharapkan jadi konsep kampung ga muncul. Belum lagi bicara pemberdayaan, jalannya organisasi sosial, potensi dan problem, nyaris diabaikan.
 
Ngecat cat kampung banyak dilakukan tapi tak ada yg sesukses #kampungpelangi yg sangat massif dlm jumlah rumah dan luasan . #kampungpelangi membungkam kritik kampung tematik yg perlu banyak perbaikan. Memang ada kekhawatiran terjadi simplifikasi persoalan kampung dlm kesuksesan #kampungpelangi Namun harus diakui, #kampungpelangi membuka cakrawala baru soal kemungkinan masa depan kampung yg jenuh dgn usulan monoton. Aspirasi musrenbang misalnya, dlm 7 taun terakhir ini didominasi pembangunan fisik. Kampung jadi tidak terbayangkan mau diapakan kecuali diperbaiki gorong2nya, pavingisasi, gapura dll Padahal ada dimensi lain yg perlu dibangun dan diatur proporsinya, non fisik senada dgn bangunlah jiwanya.
 
Usulan musrenbang yg monoton membuat warga kehilangan imajinasinya soal kampung Keberhasilan promosi #kampungpelangi membuka peluang tafsir dan imajinasi baru soal kemungkinan kampung di masa depan. Pada beberapa kampung mitra Pekakota dn Hysteria hal ini sudah dilakukan sejak 2012, namun diakui publisitas #kampungpelangi lebi massif
 
Terlepas dari itu, ini jadi alat kampanye yg bagus buat warga menengok ulang tempat tinggalnya. Harapannya ke depan aktivasi organisasi sosial macam karang taruna, PKK dll jg dilakukan. Dlm sbuah wawancara Yayat Supriatna mengatakan pentingnya kelembagaan dan pelembagaan di kampung. Kelembagaan terkait infrastruktur yg dibangun instansi, pelembagaan lebih pada penanaman nilai. Biasanya yg mendapat investasi lebih besar adl kelembagaan, pelembagaan yg kaitannya dgn pembangunan manusia diabaikan. Stelah fisik dibangun seringnya diasumsikan masyarakat akan secara otomatis bergerak sendiri. Gerakan masyarakat juga butuh diintervensi, banyak kita saksikan karang taruna macet, Pak RT ga semangat, PKK monoton Ini juga perlu dibaca dan diintervensi sehingga aktivasi menjadi kesadaran bersama belum lagi manajemen konflik dll.
 
balik lagi ke kampung tematik dan dampak kampung pelangi, tentu saja membentuk imajinasi sendiri tentang kampung. Pekakota kali ini menghadirkan warga yang kampung menjadi sasaran kampung tematik, yakni Bustaman dan Kauman serta warga Kampung Malang dan Petemesan yang beberapa bulan terakhir ini menghias kampungnya dengan bantuan teman teman street artis. bagaimana persepsi warga setelah datangnya program ini dan apa yang ingin diharapkan adalah hal yang ingin digali termasuk melihat kelebihan dan kekurangan program semacam ini.
 
Smoga ini dibaca sbg masukan yg baik untuk kota yg berkelanjutan. Bukan kritik yg bikin kita ga dialog dan bertemu.

Tinggalkan Balasan