Mengurai Cerita dan Keluh Kesah Bersama Adin Hysteria*

Adin, Direktur Hysteria

*wawancara ini dipublish pertama kali pada Jumat, 12 Agustus 2016 di blog http://kaumkera.blogspot.co.id/2016/08/mengurai-cerita-dan-keluh-kesah-bersama.html . interview dilakuan oleh Kaum Kera untuk dimuat di blog dan juga Kaum Kera Zine)

 

Ada banyak hal yang mendasari sesuatu yang dinamakan kegigihan. Salah satunya, mungkin, adalah rasa cinta. Rasa cinta biasanya berujung pada keinginan untuk perbaikan yang sifatnya menerus pada hal yang dicintai itu sendiri. Dan tidak banyak saya menemui seseorang yang mempunyai kepedulian terhadap kota seperti yang dimiliki pemuda yang satu ini, Adin. Dia adalah sosok yang paling bertanggung jawab di sebuah organisasi kolektif berbasis seni bernama Hysteria. Salah satu kolektif yang sangat aktif di berbagai kegiatan komunitas seni budaya di kota ini, Semarang. Berikut adalah wawancara yang saya lakukan dengan beliau melalui fasilitas chat jejaring sosial Facebook, silahkan disimak, semoga menginspirasi.
1. Pergerakan komunitas anak muda di Semarang, dalam berbagai bentuk, memang tidak pernah sepi dinamikanya. Dan bagaimana kabarmu mas Adin?

Dinamika kultur anak muda di Semarang aku pikir naik turun, ada kalanya kultur tertentu sangat massif dan lainnya tenggelam. Tidak mati-mati amat, mungkin sekedar hibernasi sejenak lalu kelak naik lagi. Demikian silih berganti. Semarang punya potensi besar? Ya iyalah, kota ini kan ibukota Jawa Tengah dan berbagai perguruan tinggi tersebar di berbagai tempat. Kalau sepi justru aneh.

Cuma ya itu tadi, kita nggak pernah benar-benar bisa mengukur persis apa tren yang naik, dan apa yang turun, serta apa yang diam-diam stabil. Karena masih jarang tradisi riset di ranah kultur anak muda, apalagi terkait sub kultur. Kebiasaan kita menduga-duga, meraba-raba, dan berasumsi. Meskipun asumsi dan dugaan itu bukannya meleset ya, tapi susah untuk melihat obyektivitasnya dari penilaian-penilaian tersebut. Aku? Juga sama sih. Kadang depresi, kadang berkobar-kobar. Fluktuatiflah, standar. Haha.

2. Riset memang sebaiknya menjadi tradisi ketika ingin merumuskan sebuah masalah, apalagi ketika ingin menyelidiki sebuah permasalahan yang menyangkut budaya. Bisa berbagi sedikit tentang sebuah teknik riset yang ideal menurut mas Adin?

Kalau teknik riset  ideal mungkin yang kayak di kampus-kampus kali ya? Hehe. Tapi kami biasanya tidak pakai metode seketat itu. Minimal melakukan pemetaan terlebih dahulu, analisa permasalahan, baru kita bisa ngomong lebih lanjut tentang apa yang perlu dilakukan, dan yang tidak perlu dilakukan. Riset hanya bagian awal, setidaknya basis data itu penting kalo mau meyakinkan banyak pihak

 

beberapa contoh terbitan Hysteria yang rilis sejak 11 September 2004

3. Mas Adin adalah direktur dari Hysteria. Salah satu kolektif yang aktif di berbagai kegiatan komunitas di kota ini. Bisa berbagi sedikit mengenai Hysteria, mas?

Hyteria aktif sejak 11 September 2004. Ada karena dirasa kurangnya media atau wadah yang menampung ekspresi kami di dunia sastra. Dari sastra dan dunia seni teater, aku bertemu dengan banyak seniman lainnya hingga akhirnya tahun 2007 kami mulai mengorganisir acara-acara kesenian. Mulai dari diskusi, pertunjukan, membuat art project dan lain-lain. Tahun 2011 kami mulai membaca ulang perjalanan kami dalam konteks Semarang. Hysteria berasal dari komunitas, kami rata-rata orang yang tak suka dikekang dengan AD/ART, dan aneka tata cara, baik di UKM, Persma, ataupun organisasi sejenis di dalam kampus. Makanya Hysteria ada, karena malas dengan basa-basi birokrasi. Sebuah kepongahan yang akhirnya berimbas ke kami saat Hysteria mulai sedikit serius membentuk platform baru. Kami yang enggan ‘didisiplinkan’ akhirnya mau tidak mau harus belajar organisasi lebih sungguh-sungguh. Mulai dari membuat badan hukum hingga mengurus pajak bulanan! Hal yang sangat jauh dari yang apa kami bayangkan sebelumnya. Tapi benar-benar kami sadari bahwa perubahan platform itu semata-mata karena kebutuhan.

Sudah aku sebut di awal, bahwa Hysteria bermula dari komunitas. Kami tahu persoalan-persoalan komunitas dan sejak itu kami membuat program yang berorientasi pada pengembangan komunitas. Mulai dari workshop zine, pengorganisasian, bikin event, brainstorming, hingga eksekusi program jika diperlukan. Kami tak pernah memaksa sebuah komunitas harus seperti Hysteria. Tetapi biasanya, program memang disesuaikan dengan kebutuhan. Jika kebutuhannya sebagai paguyuban ya ayo, kalo kebutuhannya sebagai yayasan atau perkumpulan berbadan hukum ya ayo juga. Jadi sangat fleksibel. Mimpinya, semakin banyak komunitas yang saling kuat dan menguatkan, maka akan tumbuh semakin banyak. Makanya, banyak kami inisiasi program-program pemetaan dan juga lintas disiplin.

Tahun 2012-2013 adalah masa-masa kritis karena rata-rata anggotanya sudah lulus kuliah. Kami mulai menimbang lagi kenapa mesti bertahan di kota brengsek ini, hahaha. Saat itu nyaris tak ada alasan yang cukup bisa dipertahankan kenapa Hysteria harus tetap ada. Funding susah, sponsor lokal repot, apresiasi minim, tenar juga nggak, pemberitaan media nasional apalagi. Hal yang membesarkan hati adalah ucapan dari seniman senior Titarubi yang mengatakan, bahwa jika kamu sudah memilih jalur ini dan kamu tahu tidak bisa hidup dari sana, ya kamu harus paham resikonya. Kerja ikut orang lain, being realistic, tapi karena sudah punya komitmen ya kamu harus meluangkan waktu dan uang untuk apa yang kamu yakini. Itu yang pertama.

Yang kedua, kami sadar hidup di Semarang, apapun yang terjadi pada kota, mau peduli apa tidak, akan berimbas pada kita juga. Misalnya sampah, macet, alih fungsi lahan dan lain sebagainya. Mau tak mau hal tersebut ya balik ke kita. Nah apa kontribusi kita? Bisaku cuma seni-senian, ya sudah kita pake itu. Makanya menjadi relevan dan kontekstual itu penting banget bagiku. Jadi menata iman dulu karena kalo basisnya materi doang, sudah berapa banyak kita saksikan inisiatif seperti ini di Semarang tumbang?

Sejak itulah Hysteria lebih intensif dengan isu kota hingga membentuk platform baru bernama Pekakota yang konsentrasinya di bagian riset dan ngomongin kota lebih umum. Sebenarnya hal ini masih mempunyai relevansi dengan visi kami tentang pengembangan komunitas. Dalam event terakhir kami, Penta K Labs, kami ingin menjadi hubungan dan ruang dialog antara kampus, komunitas, kampung, kota dan kita. Karena 5 elemen ini sukanya jalan sendiri-sendiri. Nah, inilah yang mewarnai perjalanan Hysteria hingga sekarang dan membentuk corak ideologinya sendiri.

 

Hysteria mencetak terbittan sendiri tak hanya zine tetapi juga katalog pameran, komik, antologi puisi dan lain-lain sesuai kebutuhan

4. Banyak teman-teman kolektif lain yang gigih dengan kemandirian, menolak format kolektif yang basis ekonominya berdasarkan suplai dana dari lembaga funding. Kebanyakan dari mereka memilih menata basis ekonomi mandiri dengan memproduksi karya-karya mereka sendiri. Bisa berbagi pendapat mas Adin tentang hal tersebut?

Itu juga tidak ada masalah sih, kami juga tidak tergantung pada funding sepenuhnya. Dana dari sponsorsip atau funding bagi kami adalah stimulus saja. Justru sangat menarik jika komunitas bisa menghidupi sendiri programnya dengan basis kegiatan ekonomi yang lebih riil seperti Tobucil, Batu Api, Kineruku dan banyak komunal lain juga melakukan itu. Celah-celah Langit di Bandung yang dikelola Iman Soleh malah punya kos-kosan sendiri. Ada banyak cara untuk survive sebenarnya dan tidak harus bergantung pada funding. Jika ada komunal-komunal yang bergerak seperti itu, menurutku lebih baik.

5. Pandangan ideal pribadi mas Adin tentang konsep kolektif?

Prinsip kolektivisme itu bagus, tapi agak susah dalam kasus Hysteria. Patronase di beberapa lembaga di Indonesia susah dihindari. Lembaga atau komunal yang baik, tentu saja yang bisa memenuhi syarat-syarat kesetaraan dan lain-lain sehingga anggota saling kontrol satu sama lain. Itu mungkin terjadi, tapi tidak semudah diucapkan. Hysteria sendiri tidak seideal itu, harus aku akui.

6. Saya salah satu yang menyaksikan kegigihan mas Adin dari sejak merintis Grobak Hysteria hingga sekarang, sebenarnya apa yang mendasari kegigihan tersebut?

Aku rasa beragam. Setengahnya kewarasan, setengahnya kegilaan. Campuran keduanya, haha. Hysteria tidak mungkin bisa bertahan semata-mata alasan rasional, pun juga sebaliknya. Oh iya, tentu saja juga karena kepedulian dan cinta, karena aku suka seni, dan banyak hal lainnya.

 

 

Jane Jacobs

7. Buletin Hysteria edisi terakhir sangat menarik dengan kemasan cetak yang tidak main-main serta list kontributor yang tulisannya sangat menarik. Menilik di waktu yang lalu ketika Buletin Hysteria masih dengan format foto-kopian hitam putih dan kebetulan saya salah satu yang mencermati proses pergantian format Buletin Hysteria dari waktu-ke waktu. Bagaimana mas Adin sendiri memaknai sesuatu yang dinamakan zine?

Sebagai format, zine menurutku sangat menarik karena kita bisa bikin apapun dengan term zine. Term lain misalnya tabloid, majalah dan lain-lain dengan editorial yang sudah dibayangkan, menurutku lebih kaku. Hysteria dari edisi ke edisi terbit sesuai kebutuhan dan keadaan. Kadang isinya curhat, kadang isinya kronik kegiatan, kadang cukup serius mengulas persoalan budaya maupun filsafat. Tidak ada format yang pasti. Nah, itulah keuntungan kita menggunakan term zine.

Tapi pada intinya, adalah penting bagi kami sebuah kelompok, mempunyai medianya sendiri. Tak hanya memproduksi pengetahuan, tetapi juga mendistribusikannya ke mana-mana. Kita memiliki kontrol atas apa yang kita ingin sampaikan. Meski terkadang persepsi publik bisa sangat berbeda apalagi jika dibandingkan dengan media-media arus utama. Bagi kami, yang terpenting adalah membangun kemandirian juga dalam hal informasi. Apalagi dalam kasus Hysteria, tak selalu apa yang kami kerjakan termediasi dengan baik oleh media-media arus utama. Kita sadari kekurangan itu makanya Hysteria kontinyu terbit dan tidak terbebani dengan hal-hal yang kaku.

Ada yang bilang sekarang terbitan kami lebih baik. Saya malah tidak setuju soal lebih baik, karena ‘lebih’ itu menunjukkkan tingkatan. Padahal ini bukan tingkatan dan kami tidak berniat membuat terbitan yang ambisius. Pas ada dana saja makanya dicetak demikian rupa, kalau nggak punya ya kami fotokopi lagi atau bahkan dalam format pdf dan itu tidak mengurangi sedikitpun kebanggaan dan kesungguhan kami menerbitkan Hysteria.

Kadang aku merasa Propaganda Hysteria itu ya sama halnya seperti buku harian kami. Karenanya kami mudah mengingat kejadian masa lampau dan berefleksi. Setidaknya jika suatu saat kami gagal seperti yang lain-lain, orang bisa belajar dari catatan kami. Sedih sekali di Semarang, jangankan keberhasilan, kegagalan saja susah dipelajari karena minimnya tradisi menulis. Setidaknya menulis atau merekamlah untuk kebutuhan kita terlebih dulu. Prinsip-prinsip itulah yang kami adopsi dari semangat zine. Bahwa apa yang kami bikin tidak seideal zine maker lain, bukanlah sebuah masalah karena bukan standar kaku itu yang kami inginkan.

Pameran aktivisme Roemah Goegah dari Pati yang digawangi Attak di Grobak Art Kos, Jalan Stonen Nomor 29

8. Sebentar lagi merayakan ulang tahun dan apakah rencana Hysteria sebagai bentuk selebrasinya? Membuat semacam zine fest, mungkin?

Belum ada, kadang-kadang program diciptakan secara spontan saja. Rencana awal tumpengan doang, tapi semisal ada teman-teman mau bikin sesuatu dengan zine, kami akan sangat senang hati mendukung. Hysteria memulai koleksi zine dalam jumlah banyak itu sejak tahun 2009. Saat itu aku berburu ke beberapa kota hingga kita punya database sekitar (kurang/lebih) 600 zine dan dipamerkan dalam Stonen Mini Fest bertajuk ‘Jalur Alternatif’.

Setelah itu jarang update lagi. Sedih sebenarnya dari banyaknya teman yang gabung di Hysteria nggak ada yang concern soal arsip zine, walaupun sebenarnya nggak bisa dipaksa juga sih. Kerjaan arsip kan di Semarang mah kayak sakit mental saja. Hobi yang sama sekali nggak keren. Aku berharap ada bibit-bibit baru yang bisa bersinergi dengan kami soal media alternatif seperti ini, itu harapan di ulang tahun kami ke 12 ini.

 

Pemetaan partisipatif di kampung, bagian dari kegiatan riset yang biasanya dilakukan oleh Hysteria

9. Semarang, ada beberapa yang menyebutnya sebagai “kuburan seni” dan sebagai salah satu yang juga berkesenian, bagaimana pendapat mas Adin?

Ya nggak apa, hahaha. Memang kenyataannya serba susah bertahan di sini. Meskipun bukan berarti nggak bisa juga sih. Kita sama-sama tahulah politik komunitas di Semarang bekerja seperti apa. Fragmentasi di mana-mana wajar, tapi sayang, kita masih jarang bisa meredam subyektivitas. Kadang-kadag konflik itu juga malah jadi kontra-produktif karena berhenti sebagai rasan-rasan, bukan ekspresi artistik maupun kegiatan yang saling bersaing lebih sehat.

Sudah tak terhitung Hysteria menginisasi program-program untuk memecah kebuntuan katup informasi itu, dan juga mencoba menjelas-jelaskan tujuannya. Tapi ya begitulah prasangka dan asumsi bekerja tanpa logika sampai akhirnya kami capek sendiri. Mau memperjuangkan progam baik di akar rumput maupun di level birokrat supaya terjadi percepatan perubahan juga rasa-rasanya susah banget. Aku bertemu dengan banyak orang mulai dari yang di dalam sistem, terlibat sistem, menentang sistem dan banyak hal lainnya, tapi gerakan-gerakan itu sifatnya sporadis. Jadi susah untuk melakukan hal yang sifatnya massif.

Anyway, aku sendiri sudah nggak terlalu memikirkan itu sih. Jatiwangi Art Factory, Teater Satu Lampung, adalah contoh-contoh komunal yang menarik karena mereka tumbuh dan survive di lahan yang sama sekali miskin infrastruktur. Aku pikir kelompok-kelompok komunitas bisa belajar dari mereka. Kalau mau perubahan yang massif, ya kita ngomongnya struktur, infrastruktur dan suprastruktur juga. Itu lebih komprehensif. Pertanyaannya, apa ada yang mau? Biasanya pada nggak mau sih, paling jadi omongan nasi kucing doang. Ya sudah, kita melakukannya dalam skala-skala yang masih mungkin saja.

Satu lagi, yang ‘menyelamatkan’ kami, yakni jaringan yang kami rintis bertahun dari berbagai kota. Itulah pemasok energi tak habis habis. Juga teman teman yang serba terbatas, sedikit namun loyal. Itu yang selama ini membuat program kami tak pernah sepi.

10. Selain tentu saja komunikasi yang aktif, bisa menceritakan sedikit resep-resep mas Adin dalam membangun jejaring yang akhirnya bisa menjadi kuat dan solid hingga sekarang?

Sering main sih. Kebetulan saya orangnya analog. Punya Iphone kayak dumb phone, nggak paham. Makanya saya lebih sering berkunjung ke teman-teman baik di Jogja, Bandung, Jakarta, Surakarta, kota kota pesisir dan lain-lain. Sisanya ya memanfaatkan media sosial. Oh iya, penting juga untuk update isu dan pengetahuan jadi kalau ketemu orang tetep bisa nyambung, konsistensi dan sikap yang ramah membuat orang respek sekaligus nyaman. Itulah yang membuat di banyak pergaulan, kami baik baik saja, terutama dengan jaringan luar kota. Kalau Semarang aku nggak tahu ya, terlalu banyak ‘politik lokal’ hahaha.

Aku selalu bilang ke teman teman di Hysteria, kalau ada tamu, harus diperlakukan sebaik-baiknya. Jika ada komplain orang main nggak ‘diuwongke’ pasti aku tegur. Karena Hysteria mulai dari awal, modal utama kami ya keramahan. Jika ada yang merasa tidak diterima pas main di Hysteria, aku pasti jadi orang yang pertama akan protes. Kecuali, emang tamunya yang nggak beres, baru deh bisa diperlakukan sesuai sikapnya. Biasanya orang-orang Semarang kalau ke luar kota kadang juga minder, nggak berani kenalan dan lain-lain, itu yang juga saya benci. Makanya kalau ke luar kota pasti aku paksa mereka kenalan, pun jika dicuekin, ya harus diterima saja. Dijalin terus hubungan itu entah mereka terima atau tidak, pasti masih ada orang-orang baik yang bisa diajak berteman.

 

 

salah satu contoh komik yang pernah dibuat

11. Menurut mas Adin, apa yang urgen harus diupayakan oleh para pegiat komunitas di kota ini demi menciptakan kehidupan berkomunitas yang sehat, aktif dan apresiatif serta progressif?

Jujur, aku sudah tak punya tips deh. Kebanyakan, teori dan kiat-kiat malah makin bikin pusing saja. Aku kira orang-orang juga sudah tahu persoalannya di mana, tinggal mereka mau jujur dan fair apa tidak. Lalu mengesampingkan ego untuk beberapa hal yang memang jadi kebutuhan bersama. Kayak kami ini, mana ada sekarang akun sosmed atas nama kota yang share acara kami? Nggak ada. Itu tidak fair. Kalau ada acara saja pasti kami share dan arsip posternya, tapi acara kami tidak pernah lagi dishare mereka.

Aku nggak bakal mengutuk ‘boikot’ ini lagi sih. Sudah capek dengan aksi kekanakan seperti ini. Jadi ya diraba sendiri deh kira-kira bagaimana membuat hal ini kondusif. Ini aku buka supaya generasi di bawahku terutama, tahu bahwa Semarang memang kadang tidak masuk akal para pelakunya dan itu semua kadang membuat para perintis ini capek lalu berhenti. Nah celakanya, kadang orang-orang yang ‘menyerah’ ini akhirnya juga memandang sinis dan nyinyir usaha generasi di bawahnya. Jadinya saling menjatuhkan, bukannya saling sokong. Alih-alih mencari rumusan bersama dan memperbaiki strategi komunikasi yang melelahkan, sekarang aku lebih fokus bekerja dengan teman-teman yang mau saja dan masih bisa berpikir sehat. Sisanya kita serahkan pada waktu, toh kelak orang akan menilai apa yang kita lakukan hari ini.

12. Saya dengar ada rencana untuk membukukan puisi-puisi yang mas Adin buat. Bisa bercerita sedikit tentang rencana tersebut?

Iya, ada. Itu puisi-puisi yang aku pilih ulang sejak dianggit tahun 2004 lalu hingga sekarang. Tahun depan rencananya dan ingin mengajak teman-teman dari visual atau musik untuk kolaborasi bersama. Rencananya berjudul ‘Lobang Pertama’. Garis besar idenya adalah jarak antara idealitas dan realita, tegangan, hal-hal yang tak tergapai, hutang, maut, dan yang semacam itu. Nyaris benang merah puisi-puisiku berisi  hal-hal yang sifatnya depresif. Berkebalikan dengan seluruh aktivitas yang kami lakukan di Hysteria.

Jadi ini seperti paradoks dari upaya-upaya massif keterlibatanku di Hysteria untuk membangun program sih. Jadi nanti teks ini adalah menjadi pengantar untuk masuk ide yang lebih general. Aku nggak ingin menjadi pusat, tetapi sebagai pemantik dari kerja kolaborasi dengan teman-teman lainnya untuk memikirkan tema yang sama. Kira-kira gambaran singkatnya seperti itu. Lagian bertahun aktif di kesenian nyaris menjadi pelayan orang, bolehlah kali ini memberi kesempatan merayakan diri sendiri meski sejenak hehe. Tapi sekali lagi, ini tidak tentang diriku yang cerewet, tetapi sebagai pemantik untuk memikirkan persoalan-persoalan filosofis lainnya melalui puisi dan karya seni lainnya.

13. Beberapa buku yang dibaca belakangan ini?

Aku sedang baca bukunya Jane Jacobs, bagus tuh soal pandangan-pandangan beliau tentang kota. Tentu saja juga buku-buku antropologi, karena memang lagi studi itu.

14. Lagu yang terakhir kali dinyanyikan ketika sendirian?

Belakangan lagi suka dengerin Oh Wonder, kadang-kadang Moderat. Aku tidak begitu hapal lagu lagu, tapi suka mendengarkan dan cepat bosan, haha. Kalau terakhir menjelang tidur, Apparat bagus tuh yang ‘You Dont Know Me’ sedih banget mendengarnya 😀

15. Ok mas Adin, terima kasih banyak untuk waktu dan kesediaannya berbagi dengan Kaum Kera zine. Sangat ditunggu kiprah dan karya-karya selanjutnya dan silahkan menyampaikan sesuatu apapun itu untuk mengakhiri wawancara ini.

Penting untuk mengingat bahwa kita melakukan sesuatu demi diri kita dulu. Bikin nyaman sama diri kita, baru pikir orang lain. Mungkin terdengar seperti self defense, tapi bagaimana membangun kedirian terlebih dahulu itu sangat penting. Satu hal lagi, biasanya yang kami tekankan di Hysteria yakni semboyan ‘Kalau bisa dikerjakan sendirian kenapa dilakukan berombongan, karena kami bukan gerombolan’. Itu penting supaya teman teman biasa membuat program mandiri seperti sistem sel, itu juga yang membuat program kami beragam dan tidak habis-habis, karena nyaris tiap orang bisa memegang minimal satu project secara mandiri. Kalau pas programnya besar, semua ditarik untuk jadi kerja tim.

Tentu saja tidak harus seperti kami, karena sekali lagi yang perlu diingat, bikinlah sesuatu sesuai kemauan, kebutuhan dan tentu saja kemampuan. Tidak usah ngoyoworo untuk membuktikan sesuatu. Pembuktian-pembuktian itu hanya menyiksa diri sendiri, kerjakan saja karena kita ingin mengerjakan dan dilakukan semampunya. Terima kasih atas kesempatan yang sudah diberikan, jika ada yang tersinggung, tidak dimaafkan juga tak apa, hehe.

salah satu program untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam perencanaan kota

Tinggalkan Balasan