PekaKota

pekakota

Platform kekotaan warga (citizen urbanism), mendorong rasa kepemilikan terhadap kota dan menjadi bagian dari solusi. Embrio PekaKota berasal dari pertemuan di Hotel Quest 2012 yang diprakarsai oleh Rujak Center for Urban Studies (Jakarta). Pertemuan dengan berbagai pemerhati kota (wartawan, peneliti, akademisi, dan LSM terkait) ditindaklanjuti beberapa peserta untuk membuat platform baru bernama ‘Unidentified Group Discussion’ yang memberi perhatian pada penguatan kapasitas warga melalui identifikasi, distribusi, dan pemanfaatan pengetahuan keseharian untuk kebaikan kota.

 

Sebagai pilot project dipilihlah Kampung Tugu dan Kampung Bustaman. Hasilnya berupa buku tentang kampung dan festival guna mendistribusikan kembali informasi yang telah didapat pada tahun 2013. Tahun berikutnya tersebab beberapa alasan teknis platform ini berganti nama menjadi ‘Kota Milik Bersama’, dirasa terlalu panjang, akhirnya disepakatilah untuk menggunakan ‘Peka Kota’ sebagai kelanjutan dari platform sebelumnya.

Bermula dari Festival Kota Masa Depan 2014, Peka Kota yang semula menjadi sub program naik tingkat menjadi nama platform yang akan digunakan untuk seterusnya.

Peka Kota sepakat dengan Jane Jacobs yang menyatakan sebuah kota hanya bisa memenuhi kebutuhan semua orang jika dibangun oleh semua orang. Untuk itu membangun basis pengetahuan akan kota dan memberdayakan simpul-simpul di dalamnya adalah kunci perubahan lebih baik.

 

Kerja kebudayaan itu mendapat apresiasi lagi saat tahun 2014-2015 Japan Foundation memberi kesempatan untuk menyelenggarakan festival seni di Bustaman dengan tajuk ‘Bok Cinta’ project yang mempunyai perhatian pada pemanfaatan ruang publik warga. Saat ini melanjutkan segitiga pengumpulan-distribusi-pemanfaatan pengetahuan warga, Peka Kota menjalankan program pemetaan partisipatoris di Kelurahan Purwodinatan dengan sokongan dari Ushahidi sebagai bagian dari program 100 Resilience City bersama Pemkot Semarang dan Rockefeller Foundation.

 

Lintas pergaulan ini membuka berbagai kemungkinan termasuk pemanfaatan teknologi informatika dan komunikasi (TIK) dan science dalam upaya mendorong perubahan dalam masyarakat.

 

Website: http://pekakota.or.id

Tumblr: pekakota.tumblr.com

Proyek Seni, Aktivasi Kampung dan Narasi Kota Bersama Adin Hysteria

Angga Wijaya (AW) berbincang dengan Adin Hysteria (AH) Mengenai bagaimana mulanya Hysteria sebagai komunitas menemukan praktik kesenian yang disebut sebagai proyek seni? Lalu bagaimana statement Adin mengenai posisi Hysteria dalam medan seni rupa? dan narasi mengenai kampung dan kota.     AW: Bagaimana mulanya Adin sebagai inisiator dan Hysteria sebagai komunitas menemukan praktik kesenian yang disebut

Read More...

Augmented Reality Tour: Purwodinatan Chapter

Sepuluh tahun lalu, belum terbayangkan semua orang menggenggam smartphone dan terkoneksi dengan jaringan internet tanpa putus. Generasi tahun 90’an dan 2000an awal pasti mengalami fase analog dan susahnya terkoneksi dengan internet. Tapi sekarang revolusi teknologi informasi serta perangkat pendukungnya memungkinan semua orang langsung terhubung dengan hampir seluruh orang di muka bumi ini.   Berbagai perkembangan

Read More...

Urban Discussion ‘Mangrove Planting’

Read More...

Ekonomi Kreatif dan Kota Berkelanjutan

Pekakota Forum #29 ‘Ekonomi Kreatif dan Kota Berkelanjutan’ Pemantik: Bambang Supradono (asesor Penilaian Mandiri Kota Kabupaten Kreatif) Rizal Hari M (Dosen FEB Undip) Adin (inisiator PekaKota dan peserta IKKON) Rabu, 30 Agustus 2017 19.30 Grobak Art Kos Jalan Stonen 29, Bendanngisor, Gajahmungkur, Semarang GRATIS Registrasi ke Fahreza (+6285735553902)

Read More...

is The Creative City Dead?

#MengUtarakanSeni Rujak Center for Urban Studies didukung oleh Ford Foundation, mengadakan acara diskusi untuk membahas Kampung Tematik, apa yang terjadi jika sebuah Kampung dijadikan sebagai ruang kreatif berkesenian yang dibentuk oleh pemerintah dan seniman. Bagaimana pengaruhnya terhadapa identitas kampung itu sendiri ? Bagaimana seharusnya kreatifitas bisa dirayakan ? bersama Adin Hysteria, Martin L.Katoppo, Corry Elyda,

Read More...