pre order pekakota hub

 

tuduhan seni rupa kontemporer indonesia elit itu tentu problematis dan kontroversial. kita bisa berdebat panjang lebar definisidefinisi itu, tapi silakan gugling ‘sejarah seni rupa kontemporer indonesia’ dan mari diraba, selain wacana dominasi 3 kota, kota kota lain itu hanya penonton bukan? akui saja. secara umum begitu kan. pertama kita perlu mengakui ketimpangan itu, kedua caracara lama jelas tidak bekerja efektif (misal import pengajar, debat ekosistem dan infrastruktur itu soooooooo old), ketiga butuh jalan tengah dan tak ada cara lain selain dialog dan mencari trobosantrobosan baru jika emang gagasan emansipatif seni masih dipercaya. tanpa ketiga itu omong kosong khotbahkhotbah pedagogik saja. jika ada cara lain memandang keindonesiaan, politikpolitik representatif, sebagian mewakili keseluruhan (pars pro toto) yg mendominasi dunia seni rupa kontemporer haruslah digugat. .
.
.
buku ini tentu tidak menjawab semua pertanyaanpertanyaan tersebut alihalih mencari solusi (bisa terbit aja syukur!) namun dalam perjalanannya selama 14 tahun terakhir, dari praksis kami di Semarang bisa didapat barangkali halhal yg bisa kita aplikasikan sebagai strategi survival dan adaptif (terutama untuk kotakota kecil yg tidak masuk dalam medan wacana seni visual indonesia) dan mencari trobosan situasu frustatif tersebut.

Tinggalkan Balasan