Proyek Seni, Aktivasi Kampung dan Narasi Kota Bersama Adin Hysteria

Angga Wijaya (AW) berbincang dengan Adin Hysteria (AH)

Mengenai bagaimana mulanya Hysteria sebagai komunitas menemukan praktik kesenian yang disebut sebagai proyek seni? Lalu bagaimana statement Adin mengenai posisi Hysteria dalam medan seni rupa? dan narasi mengenai kampung dan kota.

 

 

AW: Bagaimana mulanya Adin sebagai inisiator dan Hysteria sebagai komunitas menemukan praktik kesenian yang disebut sebagai art project atau proyek seni?

AH: Kebutuhannya ke praktik seperti itu. Jika kami membuat pameran mengundang seniman di ruang kami, rasanya sekarang tidak signifikan saja, tidak relevan dengan apa yang kami kerjakan. Pilihan bahasa artistik kami akhirnya ke praktik seperti itu, karena paling sesuai dengan kebutuhan kami. Paling menantang negosiasinya, karena banyak karya kami berbasis di site specific, situs yang sangat spesifik.

 

AW: Kesadaran tentang pengetahuan mengenai proyek seni ini dari mana?

AH: Kami bukan belajar dari wacana seni rupa terlebih dahulu, kemudian mengaplikasikan praktik tersebut. Namun karena lebih melihat proses-proses yang ada kemiripan, dan kebetulan namanya art project, entah itu dipakai ruangrupa, dipakai Cemeti, atau dipakai kelompok-kelompok komunal lain. Banyak yang memakai praktik seperti itu. Jika ada produksi artistik yang tidak hanya menekankan kepada proses akhir, tapi proses adalah bagian dari produksi artisik sebagai kesatuan untuk memproduksi wacana, itu yang dinamakan art project menurut kami, sepengetahuan kami seperti itu. Itu yang aku lihat, “oh ini art project yang seperti ini nih…” sepertinya yah…

 

AW: Mengapa sepertinya?

AH: Saat itu ya, dalam konteks kami mengawali praktik ini. Saat kami memulai mengadopsi istilah itu, tidak ada wacana yang serius “oh ini namanya ini” tapi lebih banyak dari melihat praktik, dan melihat kemiripan-kemiripan. Juga dari melihat wacana yang berserakan di koran, di media massa, di buku-buku. Maksud saya, pengetahuan seni rupa kontemporer masuk dalam kesadaran itu bukan karena saya mendapatkan pendidikan seni rupa kontemporer tapi membaca secara otodidak. Jadi jika kita bicara silabus, tidak ada pada awalnya. Dari ruangrupa dapat buku apa, dari Cemeti dapat buku apa, dari Mes56, dari HONF, dari teman-teman yang lain, kita membaca “oh begini ini…” secara kebetulan karya atau praktik yang mereka lakukan berbasis proyek, bukan karena mereka suntuk melukis atau membuat instalasi dalam studio. Tapi biasanya ada keterlibatan, aktor yang lain, seperti itu.

Kemudian kami memiliki kesadaran bahwa ini bentuk-bentuk bahasa artistik yang relevan untuk kami. Karena ekosistem seni rupa di Semarang tidak bagus-bagus banget, itu harus kami sadari. Karena galeri itu hanya bisa dihitung dengan jari, karena tidak semua galeri itu bisa diakses, mahal misalnya, atau mempunyai standar tertentu misalnya, yang menurut mereka kami tidak masuk. Atau ada ruang-ruang yang menamakan galeri tapi dalam medan seni rupa kontemporer Indonesia tidak masuk, misalnya. Alih-alih harus masuk ke ruang-ruang itu, ya kita harus membuat ruang kreatif sendiri, di situs spesifik, di kontrakan, dimana-mana, ini dinamakan art project.

 

AW: Hysteria kerap bekerjasama dengan Lembaga Sosial Masyarakat apakah praktik kerja berbasis proyek Hysteria ada pengaruh dari pola kerja LSM?

AH: Tidak, LSM tidak membangun kesadaran kami untuk membuat proyek. Kebetulan saja saling berkepentingan. Kami sebelumnya sudah bikin proyek-proyek kolaboratif tapi belum tahu istilah seperti itu. Awalnya, tahun 2006 karena saya bergaul dengan teman-teman seni rupa Universitas Negeri Semarang, kami terlibat dalam Kos to Kos Project, kegiatan itu berpengaruh pada produksi artistik yang kami pilih, kemudian beberapa program kami labeli dengan proyek. “ini art project”. Dari awal 2007, kami jualan nasi kucing, tapi itu tidak kami anggap hanya jualan, tapi ini adalah proyek seperti membuat place making. Itu kami anggap art project, itu tidak ada hubungannya dengan LSM. LSM tidak selalu mengarahkan pola kerja kami atau lantas karya kami harus menyesuaikan dengan mereka. Tapi lebih kepada “Oh ini beririsan, ya sudah kita jalan” Tapi jika tidak sesuai ya tidak jalan.

 

AW: Pengaruh kesadaran wacana sekalipun? Seperti wacana sosial dan kota yang kerap dibahas oleh Hysteria.

AH: Kalau aku menyebutnya tidak hanya LSM ya. Jadi pembacaan kami itu tidak head to head dengan LSM. Tapi kepada ekosistem yang ada di Semarang yang kami baca, isinya macam-macam ada LSM, ada pejabat pemerintah, ada Satuan Kerja Daerah, Dinas-Dinas ada komunitas lain. Dalam ekosistem yang seperti itu, kami harus bagaimana? “oh kadang kami harus begini, harus begitu…” yang menentukan itu, bahkan bukan medan seni rupa nasional ataupun international. Baru belakangan ini kami mengetahui dan dapat memetakannya. Untuk membangun kesadaran state of the art kami bahwa “seperti ini pilihan artistik kami” itu belakangan… setelah ada kebutuhan untuk masuk ke pasar yang lebih luas. Tenyata kebutuhannya banyak, misalnya kebutuhan untuk spreading informasi atau produksi pengetahuan atau menguatkan posisi. Posisi itu nanti untuk negosiasi politik, kekuasaan, wacana. Jadi kami bisa berdiri sejajar dengan para produsen pengetahuan lain dan berimpilkasi dengan yang namanya kami sebut sebagai perubahan. Perubahan kota misalnya.

 

AW: Selain menginisiasi proyek bersama Hysteria sebagai komunitas. Secara individu, Adin juga kerap menginisiasi proyek sebagai kurator. Apakah menjalankan proyek itu hadir dari membuat komunitas? Tidak hadir dari satu individu seniman atau kurator, misalnya. Saat ini kita melihat bahwa proyek seni identik dengan kerja yang dilakukan oleh komunitas atau artis kolektif.

AH: Bagi saya, kerja-kerja kolektif bersama komunitas sudah terjadi sejak lama, kemudian berkembang sesuai kebutuhan dan kontekstualitas. Ada juga kurator yang memulai kerjanya tidak dengan berkomunitas, atau berkomunitas tapi tidak bertahan lama. Kepentingan untuk membuat komunitas itu jika kita bersama akan lebih kuat, ini jawaban klise. Tapi, dalam ekosistem yang tidak sehat di Semarang, berkelompok itu menjadi pilihan yang lebih politis. Jika kita ingin dampak yang lebih besar, ya kita harus berkolektif, tidak hanya melibatkan satu individu, tapi juga melibatkan banyak jaringan yang lain, karena sasarannya perubahan, walau muluk-muluk, sejauh yang kami yakini, ini bagian dari kontribusi kami pada kota, misalnya.

Terlepas dari komunitas-komunitas lain bikin proyek, atau sekarang pasar lagi sepi, pasar lari ke proyek semua. Sebenarnya Semarang tidak berpengaruh dalam medan seni rupa nasional dan international, ya kami harus mencari bentuk sendiri, terlepas sekarang itu jadi trend, ya bagus. Semakin banyak teman-teman melakukan hal yang sama, ya sudah kita punya irisan kepentingan yang sama. Tapi bukan karena sekarang sedang trend seni partisipatif atau keterlibatan, itu wacana yang hadir belakangan. Sekarang jika kami tidak membicarakan itu di Semarang, lalu siapa? Lalu relevansi dan signifikansi atas kehadiran kami di Semarang apa?

Tapi hari ini beberapa teman megakui kami ada di medan seni, tapi jauh sebelum itu, kondisi di Semarang mengerikan. Maksud saya, di tahun 2011 itu kami masih mengalami masa-masa “loh, kita ini ngapain sebenarnya di Semarang?” di medan seni rupa tidak masuk, di pasar juga tidak, popoluer juga tidak. Kami lebih banyak mengadakan acara kajian, siapa yang minat kajian? Sedikit.

Lalu kami mesti mencari iman sendiri dalam menyikapi kondisi yang serba terjepit ini, kesana tidak, kesini tidak, mau berhenti ya sayang. Jika dilanjutkan namun tidak punya landasan dan tujuan di luar kebutuhan hidup. Karena untuk mencukupi hidup, apa yang kita kerjakan ini tidak masuk akal, tidak normal, kamu harus kerja, kesenian itu tidak berpengaruh apa-apa, selesai! Itu sudah tidak masuk akal jika kita survive di sana, kita harus mencari reasoning yang bagus, kita harus mempertanggung jawabkan pilihan-pilihan ini agar tetap waras. Kami mencoba berkontribusi terhadap kota, art project menjadi pilihan yang paling realistis.

Tahun 2011, kami sudah melabeli diri sebagai laboratorium komunitas, semakin banyak komunitas, semakin baik menurut saya. Karena di Semarang banyak komunitas-komunitas mati, tidak terkoneksi satu sama lain, Itu pekerjaan rumah. Jika bicara potensi, Semarang itu ibukota Jawa Tengah. Maksudku Jawa itu hanya empat yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta. Salah satu porosnya itu di tengah, jika tidak berpotensi, ya tidak masuk akal dong? Karena banyak orang kesana, perguruan tinggi itu banyak kesana, persoalan ini hendak diapakan? Jika sekedar potensi ya potensi. Lalu?

 

AW: Menarik juga tentang kondisi Hysteria yang serba terjepit itu, masuk di medan seni rupa tidak, di pasar juga tidak. Sebenarnya Hysteria memposisikan diri di medan seni rupa itu bagaimana? Kenapa harus masuk medan seni rupa? Apakah itu penting? Kebutuhannya apa? Kontribusi apa yang hendak dicapai oleh Hysteria?

AH: Orang masih menduga bahwa medan seni rupa hanya diperuntukan bagi kelompok-kelompok tertentu, tapi menurutku seni rupa itu justru yang paling demokratis. Di medan seni rupa kesempatan lebih banyak. Kesempatan itu membuat kita belajar lebih jauh, bertemu jejaring yang lebih besar, seni rupa kontemporer lebih terbuka dan cair. Tapi opurtunis juga jika hanya melihat kesempatan, lebih tepatnya memang budaya visual hari ini jadi lebih massif, dengan itu jangkauan distribusi nilainya lebih besar.

Tapi saya tidak tahu, yang ditawarkan oleh seni rupa tidak ada yang baru, jika kita bicara art project sudah ada dari dahulu, jika bicara seni di kampung sudah ada dari dahulu, banyak yang melakukan. Dalam medan seni rupa kontemporer hari ini, tidak ada kontribusinya jika kita bicara dalam konteks global, tetapi akan sangat berbeda misalnya pilihan-pilihan kami ketika dalam konteks kelompok yang mempunyai militansi dan metode. Metode itu yang bisa didistrubusikan, jika di kota-kota lain yang eksosistem kotanya sama buruknya, orang masih bingung, mitos estetikanya seperti itu tapi tidak paham wacananya bagaimana, menurut saya penting untuk melihat dirinya sendiri dan mempunyai kepercayaan bahwa apa yang dilakukan merupakan bentuk kontribusi tidak hanya untuk dirinya, tapi juga di luar dirinya, kepada kota misalnya. Saya tentu saja bicara untuk konteks kota, karena dalam konteks seni rupa saya masih belum bisa menjawabnya. Di seni rupa kontemporer apa yang kami lakukan hanya varian, tapi varian ini akhirnya menjadi berbeda, ketika kami bicara bahwa ini kota dengan ekosistem dan kultur yang berbeda. Atau dalam konteks kota saat ini, peran dan kontribusi apa yang dijalankan oleh seni rupa?

 

AW: Ada pernyataan yang keluar mengenai mitos estetika tadi, kemudian gagasan estetika apa yang hendak ditawarkan oleh Hysteria?

AH: Sekarang bentuk visual apa sih yang tidak bisa diterima? Saya susah untuk mendefinisikan “oh estetika yang seperti ini…” karena hampir sama yang ditawarkan oleh teman-teman di tempat yang lain. Jika orang hanya melihat bentuknya saja pasti akan berkomentar “oh tidak ada yang ditawarkan”, tapi jika melihat prosesnya “oh ini yang bisa ditawarkan”. Jadi dalam perdebatan estetika hari ini, saya pikir kami tidak termasuk kelompok-kelompok yang membuat satu definisi estetika yang akan merubah ini semua.

Menarik bahwa perbedaan-perbedaan itu direpresi di masing-masing kota, kemudian didistribusikan kembali, lalu kita baca ulang. Dalam peta seperti itu, orang tidak bisa hanya menilai dari tampilan luarnya saja. Orang harus membaca prosesnya. Hal itu yang saya pahami art project itu seperti apa. Kemudian menurut saya nilai yang menjadi tawarannya.

Misalnya di Cirebon ada teman-teman yang aktif berkegiatan di kampung, tapi saat kami bertanya, mereka masih punya ambisi untuk membuat galeri, itu menurut kami absurd. Galeri itu tidak penting dalam konteks ini “tujuan mu apa bikin galeri? Kamu mau masuk medan seni rupa kontemporer hari ini?” Jika kita bicara teknik, habis kita sama anak-anak di studio yang membuat karya seni rupa, sudah selesai, tidak masuk sama sekali. Bahwa apa yang dikerjakan, dengan referensi yang berbeda, medan sosial yang berbeda, akhirnya muncul dengan hasil artistik yang berbeda. Bisa saja di kota yang buruk, orang masih dapat membuat sesuatu yang sangat detil, gigantik, tapi dalam konteks kota, itu peluangnya lebih kecil. Karena ekosistemnya tidak masuk akal.

 

AW: Saat ini mulai banyak seni berbasis proyek dengan mengaktivasi kampung, seperti yang dilakukan Hysteria di kampung Bustaman, Jatiwangi Art Factory melakukan itu di desa Jatiwangi, Pasir Putih melakukan di Lombok atau contoh teman-teman di Cirebon tadi. Istilah-istilah partisipasi, kolaborasi, interaksi masuk ke dalam aktivasi kampung tersebut.

AH: Hysteria sendiri bukan hanya ke kampung, tapi site spesifik, bisa kampung, bisa taman, bisa ruang anonim, bisa macam-macam. Bagi saya yang perlu di-upgrade yaitu kognisinya, di proses mentalnya, proses cara berpikir. Bentuknya sama tapi jika kita tidak upgrade pengetahuannya, itu pasti imannya akan jadi berbeda. Jadi orang-orang yang di Cirebon itu jika imannya sudah sama “kita tidak butuh galeri, kita perlu sesuatu yang otentik”. Jika kita bisa memasok kesadaran itu, mereka pasti tidak akan dipusingkan dengan butuh galeri, karena kita akan melihat kebutuhannya, kapasitasnya, tingkat negosiasinya seperti apa, layer kekuasaan yang bekerja itu bagaimana. Bisa tidak mempengaruhi pemerintah? Kira-kira seperti itu.

Jadi membacanya lebih luas, tidak hanya semata-mata membuat proyek tapi masih rindu dengan membuat galeri. Karena di kota-kota yang lebih kecil itu banyak yang seperti itu, di Rembang, di Pati, di Kudus, orang bikin pameran di balai kota atau di kantor bupati. Karya-karyanya begitu, tahun depan pameran lagi, pakai karya yang sama. Mereka pusing menjualnya bagaimana, kemudian main ke Jogja, Bandung, Jakarta, lihat karya monumental, gigantik, tidak karu-karuan, terus terperangah dengan harganya, lalu mereka ada keinginan untuk masuk ke sana juga, tapi tidak tahu caranya. Kasihan orang-orang seperti itu. Maksud saya, tidak apa-apa juga ada yang seperti itu ya, tapi bagi saya buat apa mengabiskan waktu dengan cara seperti itu? Karena kita ini tumbuh dan berkembang dengan cara yang berbeda. Rezim estetika yang seperti itu ya biarin saja, kita bikin pilihan bahasa artistik sendiri, nah ini yang bisa ditawarkan Semarang sebenarnya.

 

AW: Apakah kamu melakukan itu karena ada kesadaran wilayah dengan lingkup sosialnya, lokalitasnya dan geopolitiknya? Kemudian komunitas yang mengaktivasi sebuah kampung menjadi bagian dari kampung itu sendiri, Contohnya, saya melihat anggota Jatiwangi Art Factory itu ya warga desa itu sendiri.

AH: Jika kita melihat kemunculan istilah itu, karena apa? Misalnya bahwa “Jatiwangi Art Factory itu seni partisipatoris” tanpa memeriksanya, benar tidak sih? Kesadaran seni partisipatif yaitu kesadaran yang secara epistemologi itu datangnya dari barat, “seni partisipatif adalah bla bla bla dengan kategori-kategori seperti ini dan lain-lain”. Orang barat jika kita suguhkan seni partisipatif lebih mudah menerimanya, “oh yang seperti itu yah…”. Tapi atribut itu tempelan setelah berjalan, setelah melakukan sesuatu dan sepertinya cocok dinamakan demikian. Karena kita butuh framing untuk bicara pada lapisan masyarakat atau medan tertentu. Kesadarannya ada dulu, kemudian kita butuh untuk bicara pada pasar atau medan yang lebih luas, kemudian kita butuh menggolong-golongkan. Itu tidak fair juga, tapi bagaimana? Kita masih sedikit yang memproduksi teori kan?

 

AW: Dari ungakapan Adin mengenai Semarang, saya melihat ada kesenjangan dengan kota lain seperti Jakarta, Bandung dan Jogja yang menjadi pusat medan seni rupa. Tapi sebenarnya Semarang mempunyai potensinya sendiri, mempunyai lokalitas yang menarik untuk dikembangkan Hysteria, bagaimana kalian mengembangkan itu?

AH: Kesenjangan itu lebih kepada distribusi kesempatan dan akses dana. Orang bisa bilang ‘kamu iri ya?”, saya rasa Ini bukan iri, tapi lebih dari itu, yaitu kebencian kelas. Kelas yang sering mendapatkan kesempatan dengan kelas yang tidak mendapatkan kesempatan. Salah? Saya rasa tidak. Menurut saya, orang yang mempunyai kebencian kelas itu hanya gunung es, bahwa ada distribusi kesempatan yang tidak adil, itu yang mesti dibaca. Orang tidak pernah melihat itu, orang hanya bilang “kamu iri yang bung?” Menurut saya iri itu ada ditribusi kesempatan yang tidak selesai. Tapi jika kita membicarakan itu tidak ada habisnya, ok lah itu selesai.

 

AW: Kemudian kesempatan apa yang dibangun Hysteria? Saya tidak membicarakan kesenjangan itu lagi. Pikiran ke depannya bagaimana?

AH: Terlepas dari akses dana dan kesempatan lainnya. Pasti semua mempunyai masalah yang seperti itu. Saya melihat teman-teman yang membuat art project atau seni partisipatif di kampung-kampung atau site specific itu akhirnya banyak juga yang terjebak menjadi gimmick, menjadi sangat permukaan.

Mereka tidak tahu sebenarnya struktur organisasi apa yang bekerja di situ. Kadang orang-orang hanya melihat dipermukaannya saja, kemudian dilihat menjadi gimmick, misalnya kami membuat proyek di Bustaman, di Kemijen, di Kampung Malang, kita tampilkan acara-acara, pameran karya, pertunjukan musik. Orang datang, orang senang, ok persoalan sudah selesai? Tidak! Kampung masih rumit! Ada persoalan sampah, ada akses tanah, ada legalitas tanah, organisasi sosial yang macet. Hal itu yang kami lakukan, akhirnya. Kami membaca struktur sosial masyarakatnya, tidak hanya sampai di situ, tapi juga mempengaruhi, “Gimana nih? Gimana nih?”.

Jadi kesenian itu buka satuan tapi bagian dari seluruh metode untuk merubah keadaan itu, ini agak muluk-muluk ya, tapi aku melihat beberapa statement dari teman-teman mengenai seni itu apa, ada yang menjawab seni adalah salah satu cara untuk memberikan perspektif yang berbeda. Benar? Ya benar. Tidak apa-apa, itu pilihan bahwa kalian menampilkan realitas yang berbeda, di kacamata seniman realitas dan bagaimana mereka menyikapi persoalan itu pasti berbeda.

Yang berbeda dari kami, kami melihat struktur sosial, kami harus ikut rapat RT nya, kami harus ikut rapat RW nya, kami harus membuat jaringan, kami harus barter pengetahuan. Saya akhirnya melihat beberapa teman-teman yang membuat proyek di kampung-kampung yaitu diambil, dipamerin, setelah itu selesai. Kemudian apa?

Gimmick tidak apa-apa juga, seni kebutuhannya apa sih? Memperluas spektrum? memperluas audiens? iya sih. Contohnya, penyanyi dangdut yang diundang dalam konteks kampanye, lirik lagu mereka menjadi tidak penting sama sekali yang penting mendatangkan massa, itu menarik, ada yang seperti itu. Kami juga awalnya seperti itu, pada tahun 2012-2013 kami merasa itu perlu, situs menjadi terbuka karena orang datang, masuk semua, muncul kemungkinan-kemungkinan, dan menjadi kompleks. Kami kemudian merasa “loh ga bisa berhenti disini”, Karena ini bisa ngaco ternyata! Kemudian kami mulai mengintervensi, tidak hanya di sektor keseniannya tapi juga organisasi sosialnya. Sampai ganti RT pun dibayangkan dan juga dalam konteks-konteks yang lebih kecil, “ini ga bener nih RT nya, bagaimana nih caranya?”. Hal itu yang membedakan kami, tidak hanya pindah event.

 

AW: Jika seperti itu, bagaimana tanggapan Adin mengenai seni kedepannya?

AH: Memang ada terobosan ya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Bekraf, tapi ini kan masih dalam proses. Menurut saya kesadaran-kesadaran yang kami lakukan jadi menarik untuk menjadi tawaran, karena persoalan kita hari ini nyata, persoalan perkotaaan itu sangat beragam. Jika dalam medan seni rupa posisi kita berbeda, tapi dalam konteks kota, posisi kita itu sama, kota-kota kita banyak yang coba menghancurkan dirinya sendiri, bahkan kota yang konon setiap jengkal tanahnya penuh LSM dan seniman tidak bisa menahan laju itu. Berarti apakah sama saja, ada kesenian tidak ada kesenian?

Kita tidak bisa menunggu penyeragaman bahasa estetika, itu juga tidak baik, menurut saya semakin banyak komunitas-komunitas di kota lain dengan kesadaran yang sama itu jadi lebih baik, mereka akan memikirkan relevansi, signifikansi, urgensinya apa, dan dengan sendirinya dia akan membangun diferensiasi. Hal itu kemudian menjadi penting jika kita bicara produk, jika produknya sama, yang berbeda mungkin nilai dan narasinya. Seluruh kota di Indonesia sangat berbeda-beda, yang kita bisa tawarkan yaitu nilai dan narasi.

*wawancara ini dimuat ulang dari http://proyekseni.com/article/proyek-seni-aktivasi-kampung-dan-narasi-kota-bersama-adin-hysteria

 

Tinggalkan Balasan