Seni Rupa Kontemporer dan Relevansinya dengan Kota-Kota Kecil

#Gosip:Mandor01 “

Seni Rupa Kontemporer dan Relevansinya dengan Kota-Kota Kecil

Sejarah seni rupa kontempoter Indonesia selalu diasumsikan dimulai sejak lahirnya Gerakan Seni Rupa Baru yang pada tahun 1970an pasca Desember Hitam yang menolak definisi seni rupa terbatas pada seni lukis, patung dan grafis saja. Sejak saat itu praktik-praktik yang lebih beragam bermunculan, termasuk gerakan-gerakan seni menjelang akhir orde baru mendominasi wacana medan seni rupa kontemporer Indonesia. Gagasan pembaruan dan pembebasan inilah tentu bergaung ke mana-mana meski pada kenyataannya otoritas seni di Indonesia yg berlangsung lebih cair hanya mandeg di kota-kota tertentu saja. Seni rupa kontemporer Indonesia sebagai gagasan, sebagaimana terma-terma lain yang merembes dalam kesadaran kita juga masuk dan menyebar ke mana-mana. Yang tidak diperiksa adalah bagaimana gagasan ini berkembang dalam ekosistem yang masing-masing beda. Apa yg terjadi di bandung, misalnya tentu sangat berlainan dengan kasus yang terjadi di Sumenep.

Sayangnya gagasan beserta aparatus kekuasaan yang beroperasi di belakangnya jarang sekali dibaca kritis bagi para pelaku yg hidup dalam konteks yang sama sekali berbeda dari arus utama. Alhasil tidak banyak alternatif yg diambil oleh personal maupun komunal yang hidup di tempat yg termasuk periferi dalam medan seni. Tak heran misalnya di Cirebon bentuk akhir yang ingin dicapai seniman adalah mempunyai galeri sebesar Galeri Nasional dengan infrastrukturnya yg lebih lengkap atau karyanya laku di pasar seperti masuk pada balaibalai lelang. Kesadaran membaca konteks dan memahami seni rupa kontemporer sebagai sebuah gagasan dengan ekosistem yang beda inilah yang seringkali luput dibaca sehingga banyak kelompok seni di luar pusat gamang. Berkaca pada kasus yg dialami segelintir kolektif, dalam hal ini Hysteria, yang aktif sejak 2004 dan cukup berhasil menghindari lubang kematiannya, forum ini ingin mengajak audiens untuk mengkritisi gagasan seni rupa kontemporer relevansinya dengan kota-kota pinggiran.

Memang, orde baru tumbang dan otonomi daerah digalakkan, tapi kalau mau jujur medan wacara seni rupa kontemporer punya medan kuasanya sendiri yg meniscayakan ketimpangan relasi antara pusat dan pinggiran yang seringkali tabu untuk diakui. Hakikatnya relasi kuasa itu beroperasi baik diam-diam maupun terang-terangan, dan forum ini adalah ajakan awal untuk membaca banyak hal termasuk historiografi seni rupa kontemporer indonesia yg acap memposisikan kota kota kecil lainnya hanya sebagai catatan kaki atau pelengkap saja.

Sabtu, 1 September 2018 di @kolaborato coworking space. Jl. Bogor Baru A4 No.8, Tegallega Bogor Tengah, Kota Bogor

19.00 – 21.00 WIB

#GSRBkolektif #GrobakHysteria #Kolaborato #LionglatteCollective #KisiFMBogor #infoBogor #SeniRupaBogor

Tinggalkan Balasan