seni untuk kota

Bagaimana sebuah inisiatif bertahan dan berkembang terutama di kota-kota yang tidak menjadi arus utama dunia seni kontemporer Indonesia? Pertanyaan itu tentu saja tak bisa dijawab dengan mudah. Tapi keberlangsungan Kolektif Hysteria dalam 13 tahun terakhir ini tentu menjadi catatan tersendiri. Sebagai pelaku sekaligus penyaksi langsung, naik turunnya kolektif, komunitas, kelompok, ruang (praktik) alternatif di Semarang, kutukan tentang kota lunpia sebagai kuburan seni tentulah tidak berlebihan. Seolah menegaskan asumsi banyak orang, komunitas akan tumbuh, berkembang tidak seberapa lama, lalu mati lemas satu-satu. Apa yang membuat Hysteria persisten bergerak dan menginisiasi banyak hal? Ragam isu apa yang selama ini jadi perhatian dan juga bagaimana berbagai penyesuaian dilakukan untuk bertahan sekaligus mengembangkan diri?

Pengalaman dan dinamika pasang-surut Hysteria dalam 13 tahun praktiknya, bisa jadi inspirasi, refleksi, sekaligus pembelajaran buat kita yang (sekedar) ingin tahu/berkenalan, atau tertarik untuk memulai, dan bahkan yang telah ‘tercebur basah’ dalam mengembangkan praktik-praktik alternatif di bidang seni, arsitektur, desain, aktivisme sosial & lingkungan, atau bidang-bidang lainnya. *Adin*, sebagai salah satu pendiri *Kolektif Hysteria*, akan hadir untuk berbagi kisah dan mengelaborasi pertanyaan-pertanyaan di atas dalam forum *BukaStudio AWD+LabTanya*, yang akan diselenggarakan pada hari *Kamis, 30 Agustus 2018, pada pukul 18.30 – 20.30 WIB*, bertempat di *Studio AWD+LabTanya, Jalan Camar III AH 10 Pondok Betung Bintaro Jaya*. Diskusi juga akan dipandu oleh *Rifandi S. Nugroho*, anak muda yang aktif mengelola wacana arsitektur Indonesia sebagai editor utama laman arsitekturindonesia.id dan salah satu inisiator *kelompok kurator kampung (kkk)*. Yuk, acara ini terbuka semua buat para pembelajar dan GRATIS!

Tinggalkan Balasan