Hysteria – Zine, sebagai media alternatif untuk menyatakan diri secara independen menjadi sangat populer bersamaan menjamurnya sub kultur punk dan ditemukannya mesin foto kopi. Sampai saat ini media ini dirasa masih relevan untuk membangun semangat kemandirian. Hysteria mengundang Ika Vantiani dan bekerjasama dengan Annisa Rizkiana melakukan lokakarya ini. Mengayakan perspektif, Addy ‘Forgotten’ Gembel juga memberikan
Menulis, Mengabadikan yang Kelak Retak
Hysteria – Beberapa pemateri yang pernah diundang untuk materi lokakarya kepenulisan antara lain Bandung Mawardi, Afrizal Malna, Eko Tunas, Muhammad Sulhanuddin, Heri Candra Santosa, Anggoro Suprapto, dan Adhitia Armitrianto. Lokakarya ini diadakan sebanyak tiga kali yakni 2008, 2009, dan 2012. Pelatihan ini memberi kesempatan bagi siapapun untuk berlatih menulis secara murah namun tidak murahan.
Pemanfaatan Media Sosial
Hysteria – Media sosial yang lagi marak seperti twitter, path, instagram, dan lain-lain dalam beberapa tahun terakhir ini juga marak digunakan sebagai alat ditribusi informasi bahkan menggiring isu. Hysteria mengundang Jefri Dinomo sebagai analis media social untuk memberikan penjelasan fenomena ini dan kiat-kiatnya. Turut diundang pula Rudy Heryanto sebagai founder Pabrik Web yang mengetahui seluk
Lokakarya Komik
Hysteria – Kegiatan ini merupakan kopi darat para komikus independen Semarang. Dikoordinatori Agung Scream Of Oi, kegiatan workshop berjalan lancar dan diselenggarakan pula pameran komik teman teman dari Semarang.
Organisir Diri Senjatamu
Hysteria – Tak hanya membekali diri dengan semangat, kemampuan mengorganisir diri sendiri dan massa adalah upaya advokasi yang hingga hari ini masih efektif. Beberapa narasumber yang pernah diundang dalam lokakarya organisis massa yakni Reggi Kayon Munggaran (eks LBH Bandung), Addy ‘Forgotten’ Gembel, Karman (eks LBH Semarang, Humas Unisbank), Erwin Kristianto (eks LBH Semarang).





