
25 tahun Reformasi telah melahirkan banyak perubahan. Dalam 25 tahun terakhir, hal-hal yang dianggap tabu seperti wacana feminisme dan seksualitas, semakin dapat diperbincangkan, 25 tahun berkarya juga dirayakan Ayu Utami. “Saman”, judul novel pertama Ayu Utami terbitan Kepustakaan Populer Gramedia lahir pada masa reformasi.
Sejak “Saman” terbit, Ayu Utami pun telah melahirkan banyak karya. “Larung” (KPG, 2001) sebagai kelanjutan “Saman”. “Bilangan Fu” (2008) yang diikuti serinya yaitu Manjali dan Cakrabirawa (2010), Lalita (2012), dan Maya (2013), dan masih banyak lagi.
Ayu Utami banyak meraih penghargaan untuk kerjanya dalam dunia sastra. Ia juga memberi apresiasi kepada penulis pemula melalui sayembara Hadiah Sastra untuk Pemula “Rasa” yang dimulai sejak 2022. Lalu apa lagi yang kita tunggu dari Ayu Utami? Pasca 25 tahun reformasi, dengan situasi sosial dan budaya hari ini, jalan apa yang hendak ditempuh oleh Ayu Utami? Singkatnya, hendak ke mana Ayu Utami setelah 25 tahun reformasi?
Ikuti Diskusi Buku 25 Tahun Reformasi, Quo Vadis Ayu Utami?
đź—“ Kamis, 11 Mei 2023
⏰ Pukul 19.00-21.00 WIB
đź“„ Registrasi ulang buka pukul 18.00 WIB
🏡 Taman Indonesia Kaya, Jl. Menteri Supeno no. 11 A, Semarang
Pendaftaran: https://bit.ly/RSVP_25thReformasi_QuoVadis_AyuUtami
- Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama antara Taman Indonesia Kaya dan Komunitas Utan Kayu, serta didukung oleh Kepustakaan Populer Gramedia, Ruang Rabu PLMP, Unika Soegijapranata, Gerakan Indonesia Kita, Dewan Kesenian Semarang, Hysteria Collective, Bukit Buku, Sonora FM Semarang, Suara Merdeka dan www.indonesiakaya.com.
Membaca karya sastra di ruang publik merupakan salah satu cara mencintai budaya Indonesia dan suatu upaya meningkatkan minat baca di negeri ini. Sampai jumpa!




