Arsip, Festival

Konsoemsi Atoe Mati!

  • 1/15
  • 2/15
  • 3/15
  • 4/15
  • 5/15
  • 6/15
  • 7/15
  • 8/15
  • 9/15
  • 10/15
  • 11/15
  • 12/15
  • 13/15
  • 14/15
  • 15/15

Hysteria – Sebuah tabik yang provokatif telah dilabelkan dengan gila-gilaan oleh komunitas hysteria sebagai penggagas acara Festival Kesenian Semarang, dengan mengambil semangat jargon merdeka atau mati diplesetkan dengan ancaman serius, konsoemsi ataoe mati! Jelas bahwa hal ini tidak lahir dari rahim yang remeh. Sebuah pembacaan besar tentang kehidupan seni budaya di Semarang. Pembacaan anak-anak muda yang sedang memesan sejarah baru untuk dicatatkan dalam skala yang lebih besar, nasional dan internasional. Setidaknya begitulah yang dituangkan dalam konsep gagasan ini, di ledakkan ke segala penjuru angin. Lewat poster, dummy, internet, selebaran dan press conference. Melebihi semangat vivere pericolosamente, anak-anak muda itu mengangkat “bambu runcing” untuk melawan kejumudan yang mengkristal di kota yang aneh ini.

Ya, Semarang! City with freak blue print! Kota dengan keterengahan pencapaian metropolis di sudut-sudut yang sepi. Kota dengan kacamata keliru ketika melihat seni budayanya, sehingga sampai kekinian masih saja meraba tonggak mana yang harus ditancapkan. Kota ini kadung menjadi kota dagang dan industri, sehingga semangat mediokratis pelaku seni budaya terasa kental dan mengemuka. Maka lahirlah festival kesenian versi komunitas hysteria ini, festival yang barangkali sangat tidak dibutuhkan oleh masyarakatnya sendiri. Setidaknya itulah dasar pesimisme yang diusung oleh konseptor untuk memulai. Tak adanya dukungan dari pemerintah kota, lembaga terkait bahkan sponsor yang minim, membuat mereka layak disematkan cap gila! Asli pejuang deh mereka semua!

Dan apapun dalihnya, kegilaan musti dituntaskan. Mereka menyiapkan amunisi dengan baik, jadual disusun, seniman-seniman dikumpulkan, workshop diberikan, wacana di gulirkan dan konsumsilah! Itu sebagai penanda bahwa dengan titik darah penghabisan masih saja ada orang-orang gila yang mau berpesta pora merayakan sedikit detik bagi kesenian. Dan ketika saya dihubungi untuk menuliskan tentang ini, saya hanya bisa bengong. Waktu itu Adin menghubungi saya pada bulan Februari 2008, selepas saya kehilangan begitu banyak otak saya karena kecelakaan.
Sore itu di tengah hujan yang menggila, Adin bezuk ke rumahku, sialan banget! Masih sempoyongan dan belum normal, langsung ditodong untuk menuliskan Festival yang ngoyo woro ini! Amit-amit deh din! Dan saya mulai menyukai pemuda yang ngawur ini, maka dengan semangat yang gila pula saya mengiyakan todongannya. Membatasi tulisan pada bidang pertunjukan terutama teater adalah kesepakatan kami. Alamak! Saya pun harus menunggu satu tahun, untuk melihat semua hasil dokumentasi dan data-data hasil konsoemsi ataoe mati! Komunitas Sangkur Timur, Komunitas Panggung, Komunitas Sawo Kecik, Our Theatre Chronicle dan Roda Gila merupakan porsi yang cukup besar untuk saya tandai kegilaannya. So let it be…

[2]
Apa yang terlihat di dalam kerja seni pertunjukan [teater] yang digiatkan dalam Konsoemsi ataoe Mati (KAM) ini langsung membuat saya tercenung. Venue yang sedianya di Fakultas bahasa dan sastra UNNES tiba-tiba dipindah dengan semena-mena oleh panitia ke sebuah joglo yang sempit dan kotor, tempat nongkrong anak-anak UKM. Ini semakin menegaskan bahwa festival kesenian semarang memang tidak diperlukan dan jauh dari profesionalisme. Panitia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa dengan keputusan tiba-tiba dari FBS UNNES yang secara sepihak membatalkan tempatnya untuk dipakai sebagai ajang festival kesenian dengan alasan entah. Alamak!

But the show must go on! Pemilihan 5 kelompok untuk memeriahkan KAM ini tentu tidak sembarangan, kelompok ini adalah kelompok teater non kampus, meski para aktor dan aktrisnya sebagian besar anak-anak kampus. Saya juga tidak begitu jelas dasar pemilihan ini, namun terendus bahwa tidak adanya proses kurational sekali lagi menegaskan bahwa ada sesuatu yang hilang dalam kerja kesenian kali ini.

 

Foto Album: Facebook

You Might Also Like

Tinggalkan Balasan