Muasal Lobang Pertama, Para Penyintas Usia Muda, dan Bahasa Siap Pakai

Muasal Lobang Pertama, Para Penyintas Usia Muda, dan Bahasa Siap Pakai

‘bagaimana jika kita gagal mati muda? ya melanjutkan hidup. tapi hidup yang bagaimana?’

Hal terberat bagi saya dalam project puisi pertama ini adalah upaya mengakui dan membongkar luka. bahwa ada yang tidak baikbaik saja. hal ini sangat berbanding terbalik dengan aktivitas saya di berbagai organisasi yang massif dan proyek ambisius yang optimistis. sementara sajaksajak ini depresif, dan sepertinya tidak banyak yang mengkampanyekan kepercayaan diri serta self esteem. butuh waktu untuk mengakui trauma, luka dan perjuangan terus menerus untuk berusaha positif. selain PR bahasa, kerjaan selanjutnya adalah bagaimana membuat apa yang saya rasakan relate dengan pembaca sehingga mereka merasa empati yang sama pada peristiwa, bukan semata adin yang sedang curhat.

memang sulit mempertahankan kesatuan tema dalam seluruh sajak terpilih dalam rentang 2005-2016 karena sebelumnya diniatkan antologi ini memberikan ragam eksplorasi tema maupun gaya bahasa selama berproses 11 tahun terakhir. pilihan judul ‘Lobang Pertama’ dipilih sebagai framing pada kecenderungan tema tertentu yang lebih dominan di buku ini: muasal kesepian, depresi, trauma, ketidakbahagiaan, unloved, rejected, anxiety, dan cara pandang negatif terutama pada anakanak muda yang mengidap tematema suicidal entah dari kecenderungan dirinya sendiri atau obsesi mati a la rockstar. seiring berjalannya waktu kampanye kesehatan mental dan penolakan terhadap dominasi value maskulinitas yang toxic banyak orang mulai menerima jiwa ambyar a la Didi Kempot yang dulu dihinahina sebagai lelaki cengeng budak cinta. tapi sesungguhnya ini bukan semata perkara hubungan percintaan usia remaja. lubanglubang itu barangkali jauh tercipta sejak lama, sejak anak pegat dengan orang tua karena beda persepsi, bullying di sekolah menengah pertama, perilaku abusive pasangan, pelecehan, dan banyak lagi yang lain yang membuat kepala kita terinstall cara pandang dominan melihat hal buruk daripada hal baik. tidak hanya software yang salah, janganjangan peristiwa traumatis itu mencipta bad sector yang harus kita terima sepanjang hidup!

pada masa tertentu puisipuisi ini menjadi pengganti riklona atau obat penenang lain dan untuk itu menyelamatkan sementara waktu tapi gagal mengusir pikiranpikiran buruk yang bercokol lebih lama. itulah mengapa saya tidak percaya ada kerjaan siasia termasuk menulis sajak yang saya tahu betul susah dijual. ini juga antitesis kerjaan di hysteria yang seolah sangat rasional padahal gagasan di belakangnya bisa jadi impulsif. persis seperti kebanyakan aalternatif space yang dicreate karena ingin menepuk dada ‘aku pun bisa’ untuk menyalurkan ego saja.

belakangan hal ini saya tekankan dalam beberapa sesi workshop manajemen komunitas. terutama setelah materi visi, misi, metode, dst yang jelas logical frameworknya ternyata ada sisi lain yang bersumber pada bawah sadar, trauma, dan hasrat impulsif lain yang hidup dan menghidupi tumbuh kembangnya komunitas. Lobang Pertama adalah upaya membaca ulang dokumen perasaan yang turut membangun kerjakerja kebudayaan saya di Hysteria sebagai manusia yang terus bergejolak di samping sisisisi rasionalnya, dan terlebih penting antologi ini adalah pengakuan bahwa kita penuh lubang dan samasama mencari jalan keselamatan jiwa. sungguh tidak fair membandingbandingkan tingkat penderitaan masingmasing orang karena tiap jiwa punya kerentanannya sendiri. dan puisi barangkali bukan jalan keluar yang tuntas melainkan kanalkanal alternatif dorongan regresif itu, melengkapi kita sebagai manusia yang berdarah daging.

adapun perihal bahasa, alihalih mencari kebaruan, justru saya lebih banyak mengeksplorasi bahasa pakai, seperti penggunaan benda temuan (found object) atau ready use or made pada seni visual untuk menyusun kalimat puisi. saya bukannya tidak sadar pentingnya eksplorasi bahasa supaya teks kita tak terjebak dalam sekedar curhat, beberapa eksperimen saya merasa sukses sisanya susah payah mencoba berhasil. teknik ini tidak baru, Chairil Anwar (CA) telah melakukannya berpuluh tahun lalu dengan cara memindah konteks penggunaan kata, seperti legenda temuan ‘Bung Ayo Bung’ yang diambil CA dari sapaan para pelacur dibawa ke konteks ajakan semangat nasionalisme.

misalnya sajak ‘Hati’ yang bunyinya ‘di sini sering terjadi kehilangan’. kita semua tentu tidak asing dengan kalimat itu yang gampang kita temukan terutama di masjid atau mushola perihal peringatan waspada pada barang bawaan. penemuan ini tentu terasa biasa saja seperti semua penemuan yang biasa saja ketika ditemukan, tetapi upaya mencarinya yang menurut saya tidak pernah mudah. dalam pikiran saya, jagad mikro selalu berhubungan dengan makro, ada universalitas dalam partikularitas demikian sebaliknya. bagi saya puisi memberi jeda pada rutinitas lalu mengangkatnya dalam level abstraksi. nah seberapa jauh saya berhasil dalam eksplorasi dan eksperimen ini mungkin para kritikus yang lebih tahu. (Adin)

Tinggalkan Balasan