Semarang Literary Triennale 2: Temu Penyair Muda

  • 1/12
  • 2/12
  • 3/12
  • 4/12
  • 5/12
  • 6/12
  • 7/12
  • 8/12
  • 9/12
  • 10/12
  • 11/12
  • 12/12

Legacy Sastra; Etika dan Estetika

Cukup banyak catatan penting tentang peristiwa kesusastraan yang belakangan terjadi di Semarang Jawa tengah khususnya, catat saja polemik generasi tua-muda, system yang diwarisi, persoalan etika, estetika, pergolakan arus isu yang rasanya sudah tak berjarak lagi untuk diketahui oleh siapa saja, kalangan apa saja, estetika sastra yang muaranya semakin lebar, banyak lagi dan saya kira persoalan pola dalam berkomunikasi menjadi persoalan penting dalam menjaga keberlangsungan hubungan satu kalangan dengan kalangan lain; tua-muda, daerah-kota , karena generasi yang ‘hari ini’ bisa disebut sebagai generasi internet seakan-akan memiliki dunianya sendiri, dengan segala konsekuensinya.

Maka saya berfikir rasanya ada tongkat yang tak sampai antara yang terdahulu dengan yang hari ini, sehingga persoalan regenerasi dapat dibaca dengan lebih baik. Persoalan ini tidak semata-mata dipandang sebagai persoalan kepedulian dan ketidakpedulian tetapi bagaimana kita bisa membaca lebih dari itu, membaca apa yang menjangkit sebenarnya. Bicara soal generasi muda saya mengutip Indrian Koto beberapa waktu lalu dalam essainya di salah satu situs jejaring internet, ia mengungkapakan :
“gererasi muda kita lebih terpukau dengan karya dari pada pengalaman dan proses kreatif. Mereka, misalnya, lebih tertarik membaca karya di media nasional ketimbang media lokal. Tidak jarang dari generasi ini menolak media massa sebagai publikasi karya-karya mereka. Mereka punya ruang publikasi sendiri seperti blog, situs dan catatan di facebook. Dengan enteng pula mereka bisa melahirkan karya dalam bentuk buku. Proses kreatif tentu tidak seberdarah yang generasi dahulu alami. Namun bukan tanpa persoalan sebenarnya, tapi mungkin ruang dan wujudnya sudah berbeda.”

Sastra bagi sebagian orang adalah karya, bukan pengarang. Pergantian generasi dan zaman menciptakan dinamika baru pula. Anak-anak muda ini sebagian tidak terlalu tertaik dengan media massa, bila mau mereka bias menerbitkan buku dengan dana sendiri, dicetak seberapa mereka mau. Dengan mudah pula mereka terlibat kegiatan-kegiatan kesastraan di luar diri mereka. Mereka terpukau dengan isu sastra nasional dan karya sastra serta penulis nasional. Sementara para senior mereka tak banyak yang muncul di ranah itu. Dengan begitu mereka merasa menjadi generasi penerus yang tidak terlibat dengan generasi sebelumnya. Karya-karya terbaik tak juga lahir di tingkat lokal, event sastra kalau pun ada tak mampu mewadahi keberadaan mereka.”

Saya kira persoalan yang terjadi di jogja juga dialami di Semarang dalam kondisi yang lebih implicit, disemarang jarang sekali kita bicara soal sejarah kreatif yang terdahulu, kalo adapun rasanya tidak begitu antusias, banyak karya lahir dari tanah ini, tak jarang dengan kualitas estetika yang menjadi perbincangan, lainnya banyak terlibat selebrasi tertentu atau bahkan memenangkan lomba di tingkat nasional tetapi bicara soal konsistensi kita rasnya perlu banyak belajar.begitukan?

Tentu saja gagasan ini akan berkembang sejalan dengan diadakannya gathering community, saya berharap kita sama-sama dapat membaca persoalan khususnya dimana kita berada dan bergiat. Saya percaya kawan-kawan memiliki pandangannya sendiri. Maka mari berembug bereng. Smoga bermamfaat bagi kita semua.

Tinggalkan Balasan