Hysteria – Sebuah tabik yang provokatif telah dilabelkan dengan gila-gilaan oleh komunitas hysteria sebagai penggagas acara Festival Kesenian Semarang, dengan mengambil semangat jargon merdeka atau mati diplesetkan dengan ancaman serius, konsoemsi ataoe mati! Jelas bahwa hal ini tidak lahir dari rahim yang remeh. Sebuah pembacaan besar tentang kehidupan seni budaya di Semarang. Pembacaan anak-anak muda
Semarang Literary Triennale : Sastra Balik Desa
Hysteria – Benarkah tanggung jawab menjadi sastrawan , penyair lebih-lebih kaitannya dengan dunia kesusastraan menjadi semata-mata tugas individu? Benarkah para ‘calon’ sastrawan atau penyair harus mengurus dirinya sendiri berikut karyanya tanpa peduli pada konteks kultural apa ia tumbuh dan sistem apa yang melingkupinya? Pertanyaan-pertanyaan di ataslah yang mendominasi dalam berbagai diskusi yang digelar pada event
Grobak Art
Gabungan Komunitas Seni Prihatin Ruang Publik Kesenian dalam beberapa kasus dianggap sebagai ekspresi puitik yang luhur, murni, sejati dan sangat serius. Karena asumsi-asumsi di ataslah terkadang masyarakat awam menilai kesenian sebagai wilayah yang terpisah realitas sehari-hari yang serba cepat dan instan. Praduga tersebut menurut beberapa pihak terkesan menghukumi dan berat sebelah, dan kesenian akhirnya malah



