Catatan Dewan Juri

13221640_1101971253202081_261413554173741143_n

Lomba Cerpen Kisah-kisah Kota Lama Semarang

Sebuah lomba bertema tentulah merujuk pada tema yang tersedia. Ini berlaku bagi peserta, dan pada akhirnya juga dewan juri yang membaca setiap karya yang masuk, memutuskan pemenang serta memilih karya nominasi. Sungguh pun begitu, apa yang disebut tema bukanlah ikat pinggang yang ketat atau krah baju mencekik leher. Tema ada justru untuk memokuskan wilayah garapan dalam menemukan satu objek/subjek yang bisa direkonstruksi ulang sehingga cerita berkembang dalam wujud dan warna yang beragam.
Tema lomba kali ini Kisah-kisah Kota Lama Semarang sebagai salah satu cara merayakan HUT Kota Semarang ke-469. Selain tema, hal yang langsung akan terasa dominan adalah latar atau setting cerita, baik berupa fisik kawasan yang kaya gedung-gedung bersejarah, maupun non-fisik seperti waktu dan nilai historis. Secara fisik, Kota Lama Semarang terkenal dengan situs-situs peninggalan kolonial yang sekarang kembali dipugar seiring ditatanya kawasan tersebut sebagai kawasan heritage maupun destinasi wisata. Maka naskah yang masuk mencoba merujuk tema sekaligus merespon latar kota. Naskah yang sampai di hadapan Dewan Juri sebanyak 505 judul yang berasal dari berbagai daerah di tanah air. Secara umum, naskah memang merujuk Kawasan Kota Lama Semarang, namun kemudian banyak cerpen yang tersisih justru karena unsur estetik sebuah cerpen tak terpenuhi; bahasa yang terbata-bata, plot yang mandeg, penokohan tanpa jiwa, hingga masalah teknis tanda baca yang tidak dikuasai. Akibatnya, kontens tematik menjadi ironi—tempelan dan kutipan.
Keberagaman yang diharapkan juga jauh dari jangkauan, lantaran persfektif melihat dan memaknai Kota Lama cenderung seragam: sentimentil, melankoli. Misalnya, Kota Lama, dengan kafe, Stasiun Tawang atau Gereja Blenduk, menjadi ajang pertemuan sepasang kekasih yang lantas berlanjut dengan kisah-kisah kebanyakan yang tidak berkorelasi secara meyakinkan dengan latar ruang dan waktu. Sebaliknya, para pengarang yang melihat ke belakang, nun ke zaman kolonial, terperangkap kisah-kisah romantik alih-alih domestik yang sama sekali steril dari kontens kolektif—hal yang sebenarnya aneh untuk sejarah dan kehidupan sosial sebuah kota. Ada juga yang mencoba menghadirkan kisah futuristik yang mengandaikan Kota Lama puluhan tahun di muka, tapi ancangannya masih goyah.
Namun ada sejumlah cerpen yang berhasil secara estetik dengan bahasa yang lancar, indah dan matang, tokoh-tokoh yang hidup dan alur yang mengejutkan. Latar lebur ke dalam cerita sebagai sesuatu yang saling mengisi, bukan tempelan. Menariknya, pada akhirnya cerita tentang sebuah kota, termasuk Kota Lama, adalah cerita tentang manusia yang bergerak bersama dinamika kota. Ritual, tradisi dan kehidupan sehari-hari, bahkan benda kecil semacam slompret (terompet) bisa dikembangkan menjadi cerita yang sangat dalam, bermakna. Suara orang-orang kecil seperti pedagang asongan, tukang parkir, tukang taman, penjaga kebersihan, tidak lesap atau lenyap, melainkan dapat tempat. Bahkan jaringan parkir “bawah tangan” dihadirkan sebagai latar kekinian yang boleh jadi mengkritisi pola menamejen sebuah kawasan. Kita juga tahu bahwa kawasan kota lama yang selama ini identik dengan Gereja Blenduk, Jembatan Kali Berok atau Gedung Marabunta, tidak hanya sebatas bangunan heritage tersebut, melainkan juga memiliki kampung-kampung yang mencerminkan pluralitas seperti Kampung Pecinan, Kampung Pekojan, Kampung Kauman yang kental dengan tradisi Islam dan masyarakat Arab, begitu juga kampung Melayu dengan kesehariannya pula, serta kampung-kampung lain, semua hadir dalam kisah-kisah yang enak dinikmati sekaligus menggugah kesadaran. Sejarah baik dalam nuansa masa kolonial, zaman Jepang maupun zaman perjuangan, muncul sebagai “ruh” yang menghidupkan gedung-gedung bukan sebatas bangunan tua. Cerita pun tak jatuh menjadi melankoli atau sentimentil, tapi terasa “pedih-perih”-nya, sebab di balik keindahan bangunan bersejarah yang kini dipugar itu, kita tahu, tersembunyi kisah-kisah perjuangan sebuah bangsa dan pergulatan hidup anak manusia.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka Dewan Juri memutuskan 3 (tiga) cerpen pemenang, yakni:

Juara 1 : Slompret Kematian (no kode 205)
Juara 2 : Lelaki Tua di Depan Gereja
Juara 3 : Zuzanne Camlo dan Lelaki dalam Mimpinya

Dewan Juri juga menetapkan 7 (tujuh) cerpen terpilih yang nantinya akan dibukukan bersama tiga cerpen pemenang, sebagai berikut (urutan tidak berdasarkan nilai):

1. A Ling karya
2. Senja di Kauman
3. Perempuan yang Berdiri Sepanjang Waktu
4. Nyai Sundari karya
5. Barangkali Ada Burung Melintas di Taman Ini karya
6. Persaudaraan Kasih Tuan Sekober
7. Eskapis

Demikian, terima kasih.

Semarang, 23 Mei 2016

Dewan Juri:
Gunawan Budi Susanto
Handry TM
Raudal Tanjung Banua

Tinggalkan Balasan