seni urban dan kontemporer: signifikansi dan relevansi

14358623_1288249594542489_8374414893239012806_n

 

meneruskan seri diskusi STRATEGI KEBUDAYAAN KOTA, minggu depan (JUMAT, 23 SEPT 2016, pkl 19.30 di GAK, Jalan Stonen 29, SMG) kami akan mengadakan rembug lagi untuk membahas apa itu seni urban dan kontempor sebagai dalam dokumen perencanaan pembangunan semarang 5 tahun ke depan (2016-2021). ini adalah seri diskusi keempat setelah sebelumnya diadakan kegiatan serupa
1. di TBRS lebih banyak membincang kebijakan disbudpar dan disospora
2. FGD para pegiat seni di gedung arsip dan pameran poster seni Semarang 2014-2015
3. di Grobak Art Kos, tentang seni urban dan kontemporer yang nyata-nyata tak masuk dalam dokumen perencanaan.
pertemuan ketiga memberikan rekomendasi misalnya
– perlunya menegaskan definisi seni urban dan kontemporer
– menyiapkan data pendukung, membentuk aliansi bersama dan mengawal audiensi
– wacana jika seni-seni yang kawin mawin dengan budaya urban seperti Tengok Bustaman, dan Narasi Kemijen beberapa waktu lalu juga bisa masuk dalam perencanaan yang diusulkan dari desanya sendiri mengingat musyawarah perencanaan pembangunan tidak disinggung sedikitpun proyek non fisik.
 
seni seperti kita tahu bisa menumbuhkan solidaritas dan medium pembelajaran yang halus apalagi tahun ini konon pak wali meminta tiap kampung mempunyai tema tertentu (kampung tematik, hasil studi banding di Surabaya)
 
dalam dokumen REncana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Semarang 2016-2021 telah kami telaah bersama ternyata hingga dokumen yang dikirimkan ke Kemdagri dalam pasal pengembangan seni, sekali lagi seni Urban dan Kontemporer tidak masuk.
 
pada hal VI-9 rumusan strategi berbunyi begini: Strategi pengembangan budaya lokal dilaksanakan dengan arah
kebijakan Pelestarian Seni, Budaya yang berbasis kearifan lokal, dengan arahan pada pengembangan nilai – nilai budaya lokal melalui pelestarian kawasan, dan bangunan cagar budaya serta situs budaya; Peningkatan peran serta lembaga seni budaya dan masyarakat dalam pengembangan budaya seni tradisional; pengembangan produk-produk berbasis kearifan lokal; Memperkuat kelembagaan masyarakat seni budaya tradisional; Meningkatkan peran lembaga dan masyarakat dalam melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat
 
juga pada Misi 1: Mewujudkan Kehidupan Masyarakat yang Berbudaya dan Berkualitas, untuk poin Meningkatkan nilai-nilai warisan budaya masyarakat dengan tujuan Terwujudnya pelestarian dan pengembangan warisan budaya lokal indikatornya adalah Jumlah seni budaya dan tradisi yang dilestarikan
 
dari dua amsal tersebut jelas penitikberatan pengembangan adalah budaya lokal terlebih tradisional, namun rasanya tidak proporsional jika seni urban dan kontemporer tidak masuk dalam garis kebijakan. seni teater modern, mural, instalasi, juga musik-musik hardcore/ punk, atau eksperimental juga adalah bagian kebudayaan yang tidak bisa kita tolak kehadirannya. tak kurang-kurang kegiatan melibatkan seni seperti ini yang meramaikan semarang, membangun atmosfer kreativitas, dan lain-lain. data yg dikumpulkan oleh Hysteria ada ratusan hingga ribuan acara yang dihelat di kota semarang dan sumbangsih seni urban dan kontemporer cukup banyak.
 
bukannya tidak ada kegiatan seni semacan ini yang disupport pemerintah, namun ketiadaan payung hukum yang jelas, membuat aksesibilitas dan daya dukung ini tak bersifat permanen. dengan mendorong keberpihakan juga pada seni urban dan kontemporer diharapkan akan ada kebijakan yg sifatnya menguatkan dan mendorong kreativitas ini lebih baik apalagi bonus demografi meledaknya populasi anak muda dalam 5-10 tahun mendatang harus segera diantisipasi dengan menciptakan kanal-kanal yang positif.
 
pertemuan ini akan mengundan Hendra Himawan (dosen ISI Surakarta) dan M Rahman Athian (dosen Unnes) untuk mengelaborasi apa itu seni urban dan kontemporer, selanjutnya diteruskan dengan pembentukan aliansi seniman untuk mendorong cita-cita ini masuk dalam dokumen perencanaan lima tahunan. disusul dengan audiensi dan bergabung dengan koalisi masyarakat kawal RPJMD untuk memastikan dokumen perencanaan mengakomodir kepentingan masyarakat Semarang.

Tinggalkan Balasan