grobakhysteria.or.id – Apa jadinya jika satu puisi dibacakan oleh berbanyak orang? Kacau balaukah atau menjadi kian kompak? Bahan Patria, salah satu penampil dalam unjuk gigi# 3 yang diselenggarakan Roda Gila, hendak mempraktikkan pembacaan model partisipatif ini. Bagi Bahana, yang juga wartawan Kompas, membaca puisi itu tidak harus selalu bercanggih-canggih. Berlatih vokal rutin atau semacam itu. Membaca puisi adalah hal biasa yang semua orang bisa. Pelibatan menjadi kunci utama sehingga membaca puisi menjadi peristiwa kolektif yang menarik.
Jadilah malam itu Bahan menjadi mentor pembacaan puisi bagi semua orang. Bukan mentor bagaimana artikulasi dan volume vokal, melainkan ia berperan sebagai pengaba-aba, sesiapa yang harus membaca per kata. Kata-perkata bersambung dan akhirnya menjadi puisi indah bersama. Model semacam ini menjadi tawaran yang menarik menyikapi stagnasi pembacan puisi yang begitu-begitu saja. Deklamasi sebagai acuan utama akhirnya dimentahkan oleh partisipasi para penonton. Bahana Patria yang malam itu tampil berbarengan juga dengan Bagus TR, dan Screcrows (300610) tampil atraktif dan sempat membuat penonton lain keder, karena beberapa pembaca tidak siap dengan aba-aba hingga ditertawakan peserta lain. Lain halnya Bahana, Bagus TR menjadi performer pembuka acara yang diselenggarakan di Grobak A[r]t Kos (GAK), Stonen no 29 Sampangan, Semarang ini. Bagus mencoba mengeskplorasi pekerjaan barunya sebagai seles. Monolog kurang lebih 25 menit itu rupanya mampu mengocok perut penonton. Sebagai penutup tampil Scarecrows membawakan musik-musik blues. (Im)











