Hysteria – Sejatinya manusia adalah makhluk yang suka bermain (homo ludens). Praktis semenjak lahir manusia telah dkodratkan untuk mempunyai naluri bermain. Usia permainan hampir bisa dipastikan seusia dengan peradaban manusia itu sendiri. Hasrat bermain ini seringkali identik dengan perilaku anak-anak, meskipun sejatinya tidak ada pembatasan usia dalam keterlibatan permainan. Tentu kita masih masing ingat permainan di masa kanak-kanak. Bagi yang berlatar belakang desa, masih segar dalam ingatan serunya gobak sodor, petak umpet, engklek, kapal-kapalan dari seng, gasing dan banyak lagi. Seiring perkembangan jaman permainan-permainan ini sering dilupakan. Bukan mustahil pula jika banyak anak kecil yang asing dengan permainan ini karena terbiasa dengan play station atau yang belakangan marak: game on line.
Semangat untuk mengenang kembali permainan tradisional inilah yang akhirnya dipilih kelompok seni Karamba Art Movement dan anak-anak senirupa Unnes untuk menggelar pameran di Grobak A(r)t kos, Jl. Stonen no 29 Sampangan Semarang (29/12/10). Beraneka mainan tradisi ditampilkan kembali dalam berbagai versi. Ada yang ditampilkan apa adanya, divisualisasikan dengan dua dimensi dan ada pula dibuat dalam ukuran berlebihan (misalnya gasing raksasa). Tribute dan penghargaan pada mainan tradisional rupanya disepakati oleh para perupa muda ini sebagai isu utama pameran mereka. Bagi mereka selain membangkitkan kenangan dan nostalgia, pameran ini bertujuan juga untuk mempelajari kearifan lokal yang terkandung dalam tiap permainan. Ada sportivitas, aktivitas, kolektivitas, dan independensi yang terkandung dalam permainan tradisi. Hal ini berbeda dengan playstation yang mempunyai interaksi yang terbatas dan tanpa gerakan-gerakan yang berarti.
Namun demikian sepertinya belum terlihat jelas pesan kritis apa yang disampaikan para perupa ini. Mainan disajikan sebagai artefak semata tanpa kejut. Memorabilia ini terhampar begitu saja dan belum disentuh secara lebih kritis. Tentu saja jam terbang mereka aka mempengaruhi bagaimana mereka kelak mempermainkan tanda-tanda visual tersebut. Bukan berarti lantas pameran tidak menarik, hanya saja kurang tajam. Tapi pewarnaan local urban toys yang terselenggara karena ulah partisipan menjadikan pameran itu cukup segar dan layak ditonton.
































