Arsip, Pameran

Poster Propaganda

  • 1/15
  • 2/15
  • 3/15
  • 4/15
  • 5/15
  • 6/15
  • 7/15
  • 8/15
  • 9/15
  • 10/15
  • 11/15
  • 12/15
  • 13/15
  • 14/15
  • 15/15

HysteriaPOSTER PROPAGANDA hadir tengah-tengah masyarakat sebagai respon dari sekelompok seniman jalanan mengenai keadaan sekarang, dengan segala kemacetan, polusi, politik yang seharusnya menjadi solusi dan berbagai isu lainnya di negeri ini.
Kota adalah pusat peradaban masyarakat urban dengan aktifitas pergaulan lingkungan yang sangat beragam latar belakangnya, dari pedagang, briokrat, pendidik, buruh dan seniman. Menggaris bawahi tentang masyarakat urban, sangat berhubungan dengan permasalahan budaya kota dimana terjadi akulturasi local maupun internasional yang berdampak pada lingkungan masyarakatnya yang meliputi diantaranya: bangunan multiswalayan, bertambahnya jalur beserta transportasi, ruang publik dan budaya metropolis (pameran poster propaganda by RespectaStreetArtGallery dan Hysteria)

Para penonton mulai resah ketika sampai pukul 20.00 pameran belum dibuka-buka. Nampak panitia modar-mandir menyiapkan sound system dan pendisplayan karya yang ternyata diniatkan secara live. Beberapa bule sibuk memotret dan sebagian lainnnya duduk-duduk santai sambil mengamati detik-detik menjelang pameran dibuka.

“Akhirnya dibuka juga” celetuk penonton yang akunya telah menunggu selama 2 jam di GAK, Stonen 29 Sampangan Semarang. Yap! Malam itu ratusan poster dari berbagai kota dan di antaranya malah dari luar negeri memenuhi ruangan art space Hysteria. Seluruh poster memenuhi baik kiri dan kanan dinding GAK. Poster-poster itu sengaja dipajang seenaknya sendiri dalam seluruh ruangan GAK. Malam itu tampil juga musisi dari Kalimantan, Jogjakarta, Semarang juga dari Italia.

Pameran ini terselenggara atas inisiatif respecta Jakarta yang sebelumnya telah meggelar pameran serupa di Jakarta. Semua poster pun bervariatif, dari kritik politik hingga celoteh-celoteh pribadi yang dipasang di jalanan.

Pameran yang diselenggarakan sejak 1-3 juni 2010 ini diantaranya menampilkan karya-karya dari Pippin Frisbie Calder -Max Kaos -Charrisa -Tricky Trikstar, LY ( Local Youth) -Love Hate Love And Geng Yorc-Oi Oi, Artco Squad -Caps -Arks-Isrol -Vito-Emge Pandeka -Bolsq -Si Jago Merah (Stenzilla) -Kagunan Grafis -Atap Alis -Rharharha -Kuas N Roll -Kagunan Grafis -Atto, Welly Baskoro, Robo Wobo, Penjol ,Mg.Priggotono,Acip, (Propagraphic Movement) -Betha + Agam +Marijan+Jah Ipul (Sakitkuningcollectivo)-Popo+Ashtwo+Adhi (Kampung Segart), Public Iinv(est)ation, Hysteria, dan Karamba Art Movement. Sedangkan para musisi yang tampil pada malam yakni ultra elektronis (Kalimantan), tawazun, terror of noise (Jogja), Chipcracker, Ready to Go (Semarang) dan Simoklownz (Italia). Ruangan kecil GAK pun disulap menjadi ajang ajojing kecil dengan tata lampu yang menarik.

Sayangnya acara diksusi yang sedianya diselenggarakan besok paginya untuk mengelaborasi gagasan pameran ini akhirnya ditiadakan karena kendala teknis. Namun demikian poster-poster ini setidaknya telah menjadi saksi bagi kegelisahan para anak muda ini dalam merespons fenomena sosiokultur dan politik terutama di wilayah perkotaan.

You Might Also Like

Tinggalkan Balasan