Apa yang tersisa dari Roemah Goegah

  • 1/13
  • 2/13
  • 3/13
  • 4/13
  • 5/13
  • 6/13
  • 7/13
  • 8/13
  • 9/13
  • 10/13
  • 11/13
  • 12/13
  • 13/13

Hysteria – Pada awalnya adalah ketertarikan. Yak ketertarikan inilah yang membuat Hysteria memilih Attak untuk dibuatkan acara di Grobak A(r)t Kos pada 27 April – 08 Mei 2011. Ketertarikan ini dipicu bukan karena Attak dengan Roemah Goegahnya sangat ‘Punk’. Tetapi lebih kepada apa yang dijalankan Attak secara sadar, penuh resiko, dan konsistensi yang menahun. Bahwa kemudian idiom-idiom yang dipakai Attak didominasi slogan a la punk itu lain hal. Dan kenyataannya Attak dengan kawan-kawannya merasa ‘punk’ hingga hari ini.

Pameran ini berisikan rangkuman kegiatan Attak yang masih sempat terdokumentasi dari 2004-hingga sekarang. Ada foto, sablon kaos, zine, artwork, stencil, emblem dan lain-lain. Seluruhnya dapat diidentifikasi ikon-ikon punk. Namun yang paling menarik bukan ideologi bermusik Attak. Tetapi lebih kepada penyikapannya atas isu-isu yang paling dekat dengan lingkungan sosialnya sendiri. Terutama kasus penolakan pembangunan pabrik semen yang sampai hari ini masih ramai. Dan kebetulan lagi pameran Attak secara berbarengan dengan aksi pemukulan oleh oknum akademi pelayaran di Semarang. Sehingga tidak heran ketika pameran ini dibuka dan dimuat di media mainstream (begitu sebagian kawan-kawan punk menyebut) isinya meng counter kekerasan yang sedang terjadi. Kekerasan ini barangkali salah satu bukti bahwa punk masih sering disalahpahami sebagai semata-mata gaya hidup. Bukan ideologi yang keren dan diamalkan pemeluknya. Pemuatan itu akhirnya memicu pro dan kontra di facebook.

Seperti yang pernah saya pertanyakan sebelumnya apa sih punk? Apa itu mainsteam? Dan banyak lagi definisi-definisi yang kebetulan aku tanyakan. Bukan sok sok an tetapi pertanyaan itu lebih pada untuk melihat kerangka berpikir teman-teman. Dari iman itulah akan kelihatan tindakan-tindakan apa yang diambil menyikapi berbagai isu tersebut. Bagi saya pribadi kalau mau merujuk pada para pemikir sekaligus organisator kita semacam Hatta, Tan Malaka, Soekarno, Syahrir, Agoes Salim dan banyak lagi merupakan pribadi-pribadi yang tidak hanya matang secara gagasan tetapi juga lihai dalam pengorganisasian. Makanya basis teori dan praktik bagiku merupakan kesatuan yang perlu dipelajari, diujicoba dan kalau perlu disesuaikan dengan konteksnya. Apakah sebuah gerakan itu efektif atau tidak.

Ajakan ini terutama melihat hal yang mencolok didengung-dengungkan soal konsep Anarki. Konsep anarki sendiri digagas oleh para pemikir yang melihat bahwa negara ternyata tidak banyak membantu pemberdayaan masyarakat. Negara seringnya malah merepresi dan menguntungkan para pemilik modal. Untuk itu konsep anarki yang berasal dari bahasa Yunani yang artinya tanpa negara lebih menekankan kembalinya manusia sebagai pengendali dirinya sendiri. Tokoh-tokohnya diantaranya adalah Proudhon, William Godwin, Peter Kropotkin dll. Mikhail Bakunin malah berkata lebih keras mengenai konsep-konsep anarki. Kekerasan menjadi halal jika memang ini satu-satunya cara. Keadaan tanpa negara ini bersesuaian dengan yang dicita-citakan Marx. Komunisme menjadi cita-cita bersama mengembalikan manusia pada masa-masa komunal. Negara harus hancur dan ditiadakan ketika keadaan ini tercapai. Dalam perkembangannya tentu saja ada perpecahan pemikiran di antara keduanya. Hal ini terkait dengan kepercayaan komunisme pada negara untuk mengantar revolusi proletariat sedangkan sudut pandang anarkisme yang meniadakan negara sama sekali.
Tahun-tahun berlalu dan konsep-konsep marxisme telah mengalami revisi berkali-kali untuk menangkar kapitalisme yang seringkali dibayangkan oleh teman-teman sebagai entitas yang padu dan satu suara. Sampai di sini saya tidak akan memperlebar bahasan teoritis mengenai anarki dan komunisme. Tulisan pendek ini hanya sebagai ilustrasi bahwasanya gagasan-gagasan ini dipikirkan dan dipraktekkan secara beriringan.

Pemisahan antara gagasan dan praktik kadang-kadang mengandung cacat yang fatal. Nah dalam konteks hari ini sejauh apa sih gagasan-gagasan tentang anarki berkembang dan dikembangkan? Bagaimana jika dipraktekkan dalam konteks keindonesiaan bahkan lokalitas? Menurutku Attak menarik di situ. Ia telah berani bermain di ambang antara garis keras iman punk dan kebutuhan dalam konteks lokal. Dan Attak melakukannya dengan sadar. Tetapi yang lebih penting dari itu semua adalah persoalan isu semen yang kian hari kian panas. Nah apa yang bisa kita lalukan untuk menyikapi hal ini.

Tinggalkan Balasan