Hysteria – Zine, sebagai media alternatif untuk menyatakan diri secara independen menjadi sangat populer bersamaan menjamurnya sub kultur punk dan ditemukannya mesin foto kopi. Sampai saat ini media ini dirasa masih relevan untuk membangun semangat kemandirian. Hysteria mengundang Ika Vantiani dan bekerjasama dengan Annisa Rizkiana melakukan lokakarya ini. Mengayakan perspektif, Addy ‘Forgotten’ Gembel juga memberikan
Ke Tugu
Hysteria – Ke Tugu merupakan bagian dari program dinamika pengetahuan perkotaan yang diinisiasi oleh Unidentified Group Discussion. Sama halnya dengan ‘Tengok Bustaman’ tujuan program ini adalah mengumpulkan pengalaman keseharian yang telah menahun menjadi pengetahuan yang bisa dimanfaatkan untuk kebaikan bersama. Program ini diawali dengan serangkaian workshop dan wawancara bersama warga dengan output pentas seni dan buku tentang pengetahuan
Bok Cinta , Upaya Aktivasi Ruang Khalayak
Tengok Bustaman II Adin Kredo “Apalah artinya renda-renda kesenian, bila terpisah dari derita lingkungan. Apalah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan. Kepadamu aku bertanya..?” (Sajak Sebatang Lisong- WS Rendra) Selama 10 tahun lebih berkesenian di Semarang, ada masa-masa dalam diri mempertanyakan sebenarnya untuk apa terus menerus berkegiatan, membangun jaringan, menginisiasi program. Berkali evaluasi rasa-rasanya
Memunculkan Harapan Lewat Seni
(catatan proses artis) Oleh Annisa Rizkiana Rahmasari grobakhysteria.or.id – Butuh waktu 2 minggu bagi saya untuk merenung setelah menyelesaikan proyek seni di salah satu kampung di Semarang. Nama kampung tersebut adalah Bustaman. Nama ini diambil dari nama Kyai Kertoboso Bustam atau kakek buyut Raden Saleh. Bersama beberapa seniman lain, kami diberikan kewajiban untuk mengolah
Tengok Bustaman
Hysteria – Tengok Bustaman diadakan pertama kali 2013. Tujuannya untuk mendokumentasikan pengetahuan warga, mendistribusikan, dan memanfaatkannya untuk kepentingan bersama. ‘Tengok Bustaman’ diinisiasi oleh Unidentified Group Discussion (UGD) Semarang bersama Rujak Center for Urban Studies. Program ini juga bermaksud membantu warga mengidentifikasi diri mereka sendiri sehingga muncul kesadaran untuk membenahi diri sendiri berbekal kemampuan advokasi melalui



