Peta Kota 1: Dalam Kamar

  • 1/8
  • 2/8
  • 3/8
  • 4/8
  • 5/8
  • 6/8
  • 7/8
  • 8/8

Pameran Poster gigs, perlu sinergi antara stakeholder dan musisi

Salah satu program Hysteria untuk mendukung perkembangan kultur komunitas adalah melakukan pemetaan. Pemetaan kali ini di wilayah musik. Tidak muluk-muluk yang kami kerjakan, Hysteria menggelar pameran poster gigs dari 2007-2009. Dari pameran ini diharapkan dapat dipetakan bagaimana scene musik di Semarang berkembang dalam tiga tahun terakhir ini. Hysteria bersama Kosong menyelenggarakan event ini dari 18-21 juni 2010. Frieda Amalia dan Aga Petir membagi event ini dalam berbagai kegiatan. Antara lain pameran, screening film dan diskusi bersama Syamsul dan Danang T. Ke depan program ini akan dilanjutkan dengan upaya-upaya pemetaan yang lain. Pada tahun sebelumnya Hysteria juga pernah menggelar acara serupa tepatnya pada tahun 2007-2008. Hysteria berusaha memetakan aktivitas teater di Semarang dan literasi meskipun masih sangat sederhana. Tapi itu menjadi embrio pada proyek-proyek semacam ini.

Mapping project, peta kota #1 merupakan program Hysteria yang kali ini dieksekusi divisi dokumentasi komunitas Hystera bekerjasama dengan Zine Kosong. Ide awal program ini adalah minimnya kesadaran dokumentasi terhadap peristiwa kesenian. Mapping project, petakota sendiri direncanakan menjadi program rutin Hysteria sebagai bagian dari gerakan pemetaan seni-seni urban kota Semarang dan gerakan anak muda di kota ini. Pemetaan ini selain menjadi database bersama juga diharapkan memudahkan orang-orang untuk melihat denyut kesenian baik yang sedang tumbuh, berkembang atau perlahan-lahan mati. Dari usaha ini akan terbaca kelak patahan apa saja yang terjadi dan dari data yang ada bisa diolah agar bisa belajar dari modus yang pernah ada.

Kali ini yang diangkat dalam project ini adalah pengarsipan poster acara musik indie di Semarang periodde 2007-2009. Ada sekitar 80-90 poster yang berhasil dikumpulkan panitia. Semua poster dipajang di Grobak A[r]t Kos (GAK), Stonen 29 Semarang dari 18-21 Juni 2010. Frieda Amalia sebagai ketua panitia menyatakan dalam siaran persnya bahwa kegiatan ini sangat penting, selain menggugah kesadaran dokumentatif juga untuk bahan riset jika kelak ada yang mau meneliti perkembangan sub kultur di kota Semarang. Sementara Aga, konseptor Zine kosong juga berargumen, dari poster-poster ini kelak dapatlah diamati sejauh mana perkembangan musik indie di Semarang.

Acara yang diberi tajuk ‘dalam kamar’ ini tidak hanya berisi pameran poster semata. Ada diskusi mengenai perkembangan scene musik lokal, pemutaran film hingga performance musik yang kali ini dibawakan Scarecrows dan Steamboat. Bertajuk “Dalam Kamar” karena model display karya disetting menyerupai kamar anak lelaki dengan poster berserak di sekujur dinding dan langt-langit kamar. Jadilah ruangan 3 x 5 di GAK dipenuhi poster bermacam-macam.

Sayangnya acara semacam ini masih sepi sekali peminatnya. Padahal kalau mau belajar dari sejarah tentu tidaklah mudah seseorang terjebak dalam lubang yang sama. Tanpa kesadaran reflektif seperti ini tak mustahil para pelaku permusikan di Semarang melakukan ritus bunuh diri berulang-ulang yang celakanya tidak disadari. Berdasar pengamatan Danang Tri (salah satu pembicara dalam sesi diskusi) Semarang sangat potensial namun karena daya dukung infrastrukturnya tidak siap maka satu persatu bibit –bibit menarik ini mati pelan-pelan. Lain halnya Syamsul ( praktisi) “Idealnya pemerintah memberikan fasilitas dan akses yang memadai jika ingin kondisi ini membaik”, tuturnya.
Artinya harus ada sinergi antara pelaku permusikan dengan pemerintah dan juga stake holder yang ada. Ini merupakan point diskusi yang berlangsung selama berjalannya acara.

Tinggalkan Balasan